|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 29 May 2007 |
|
This is the art of war - Discuss the distance
- Discuss your numbers
- Discuss your calculations
- Discuss your decisions
- Discuss your victory
The ground determine the distance, the distance determines your number, you numbers determine your calculation, your calculations determine your decision, your decision determine your victory. Ini adalah dasar dari the art of war nya Sun Tzu. |
|
Last Updated ( Tuesday, 29 May 2007 )
|
|
|
Ekonomika dan Pengetahuan oleh Freidrich Hayek |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 04 March 2007 |
|
Artikel ini saya angkat kembali karena beberapa hal yang penting belum sempat ter upload di server ini , pemikiran dari kawan kawan diskusi menjadi penting untuk diangkat dan dinikmati bersama serta didiskusikan sebagai bentuk dari 'sharing knowledge' diantara sesama .. ------------------ Diskusi Soal Lawang Tani Kang Didi Sugandi (0kt 2005) datang ke CNRG dan diskusi kembali soal Lawang Tani , ada beberapa pemikiran yang disampaikan terutama berkaitan dengan referensi yang menguatkan Lawang Tani antara lain pemikiran yang dikemukakan oleh Friedrich Hayek dan Konsep BA di Jepang. Url yang berkaitan dengan Hayek : 1. http://www.hayekcenter.org/friedrichhayek/hayek.html 2. http://www.virtualschool.edu/mon/Economics/HayekEconomicsAndKnowledge.html 3. http://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3620/is_200207/ai_n9135101 Berikut sedikit cuplikan artikel Hayek , yang telah diterjemahkan oleh Kang Didi . Ekonomika dan Pengetahuan oleh Freidrich Hayek Sambutan kepresidenan disampaikan di hadapan the London Economic Club; 10 November 1936 Teks asli: Economics and Knowledge Reprinted from Economica IV (new ser., 1937), 33-54. (emphasizes/highlights dsb. ditambahkan oleh penterjemah/penafsir: Didi Sugandi) Ambiguitas judul paper ini bukanlah sekedar sebuah kebetulan. Subjek utamanya adalah, tentu saja, peran di mana asumsi-asumsi dan proposisi-proposisi perihal pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing dan setiap anggota masyarakat menentukan dalam analisis-analisis ekonomik. Namun tidak berarti ini tak terhubung dengan pertanyaan lain yang bisa didiskusikan di bawah judul yang sama— yaitu pertanyaan sampai seberapa jauh analisis-analisis formal ekonomik menyampaikan pengetahuan tentang hal-ikhwal apa yang terjadi di dunia nyata. Memang, pendapat utama saya adalah bahwa berbagai tautologi [yaitu proposisi atau statement, yang pada dirinya sendiri secara lojik, benar], di mana pada hakekatnya dikandung oleh analisis-analisis equilibrium formal dalam ekonomika, bisa dirubah menjadi proposisi-proposisi yang memberitahu kita segala sesuatu hal-ikhwal sebab-akibat (causation) di dunia nyata, hanya jika kita mampu mengisi proposisi-proposisi formal itu dengan pernyataan-pernyataan definit tentang bagaimana pengetahuan diperoleh (acquired) dan dikomunikasikan. Ringkasnya, saya akan berpendapat bahwa elemen empirik dalam teori ekonomik—satu-satunya bagian yang berurusan bukan saja dengan implikasi-implikasi namun juga sebab-sebab dan akibat-akibat dan yang karenanya memandu ke arah konklusi-konklusi yang, hakekatnya pada kasus manapun, mampu untuk diverifikasi – terdiri dari proposisi-proposisi tentang pemerolehan pengetahuan[1]. |
|
Read more...
|
|
|
11 Maret 66 , dan misteri nya |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 11 March 2007 |
|
Hari ini adalah hari yang paling diingat oleh bangsa Indonesia , yaitu 11 maret , pada tanggal yang sama , 41 tahun yang lalu atau 11 Maret 1966 adalah hari yang menentukan arah bangsa Indonesia. Hari ini 41 tahun lalu adalah hari dimana Presiden Republik Indonesia pada saat itu , Ir Soekarno atau Bung Karno (BK) memberikan surat perintah kepada 3 jenderal , yaitu Brigjend TNI Amir Machmud , Bridjend TNI M.Yusuf dan Mayjend TNI Basuki Rahma. Surar perintah tersebut adalah surat perintah kepada Mayjend TNI Soeharto (Pangkostrad) untuk memulihkan keadaan dan mengambil tindakan tindakan yang perlu. Atas dasar surat perintah sebelas maret (Supersemar) inilah, Mayjend Soeharto melakukan tindakan yang penting yaitu membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia) |
|
|
Ekonomika dan Pengetahuan jilid II (lawang tani ) |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 04 March 2007 |
Ekonomika dan Pengetahuan jilid II (lawang tani ) Individualisme dan Tata Ekonomik
Situasinya, namun, berbeda dalam hal rencana-rencana yang ditetapkan secara simultan namun independen oleh sejumlah orang. Dalam kasus pertama, agar supaya setiap rencana itu bisa dijalani, adalah perlu bagi mereka untuk mendasarkannya pada ekspektasi pada rangkaian (set) kejadian-kejadian eksternal (external events) yang sama, karena, jika orang-orang berlainan telah mendasarkan rencana-rencana mereka pada ekspektasi-ekspektasi yang bertentangan atau berkonflik, tidak ada rangkaian kejadian eksternal yang bisa membuat eksekusi dari semua rencana-rencana ini menjadi mungkin (possible). Dan, kasus kedua, di dalam sebuah masyarakat berbasis pada pertukaran (exchange) rencana-rencana mereka harus, sampai suatu tingkat yang bermakna, menyediakan tindakan-tindakan yang membutuhkan tindakan-tindakan sepadan (corresponding actions) dari individu-individu, pihak yang lainnya. Ini artinya bahwa rencana-rencana dari individu-individu berbeda harus, dalam arti tertentu, compatible, ini bahkan jika untuk sekedar menjadi bisa masuk akal bahwa mereka akan bisa melaksanakan semuanya[4]. Atau, untuk menyatakannya dalam kalimat lain, karena beberapa dari data, pada apa seseorang tertentu akan mendasarkan rencana-rencananya, akan menjadi ekspektasi dalam diri orang lainnya untuk bertindak dalam suatu cara tertentu, adalah mendasar bahwa mestinya ada kompatibilitas dari rencana-rencana berbeda-beda, bahwa harusnya rencana-rencana seseorang mengandung tindakan-tindakan yang tertentu - exactly those actions - yang mewujud menjadi data di dalam rencana-rencana orang yang lain.
Bagian dari kesulitan ini dalam perlakuan tradisional tentang analisis equilibrium tampaknya telah dihindari dengan mengasumsikan bahwa data, di dalam bentuk demand schedules merepresentasikan selera-selera individual dan fakta-fakta teknis, semuanya given sama-rata pada setiap individu dan bahwa tindakan-tindakan mereka di atas premis-premis yang sama akan sedemikian rupa membawa rencana-rencana mereka menjadi beradaptasi satu sama lain. Bahwa ini tidaklah benar-benar mengatasi kesulitan dibawa oleh fakta bahwa tindakan seseorang adalah data untuk orang lain, dan ini sampai suatu tingkat tertentu, memunculkan penalaran melingkar (circular reasoning), telah sering dibicarakan. Namun, apa yang jelas sejauh ini luput dari perhatian adalah bahwa keseluruhan prosedur ini melibatkan sebuah kerancuan sesuatu karakter yang jauh lebih luas, di mana point yang baru disampaikan adalah sekedar sebuah kasus khusus, yaitu yang disebabkan dari sebuah penggunaan mendua (equivocation) dari istilah "datum"[sebuah fakta diketahui atau diasumsikan yang digunakan sebagai basis untuk sebuah teori, konklusi atau inferensi]. Data yang di sini seharusnya adalah fakta-fakta objektif dan sama bagi semua orang nyatanya tidak lagi hal yang sama pada data yang membentuk titik mulai bagi transformasi-transformasi tautologis dari the Pure Logic of Choice. Di sana "data" dimaksudkan fakta-fakta tertentu, dan hanya fakta-fakta tertentu (those facts, and only those facts), yang sudah ada dalam pikiran person yang bertindak, dan hanya interpretasi subjektif dari term "datum" ini yang membuat proposisi-proposisi itu tak bisa tidak, adalah kebenaran-kebenaran. "Datum" artinya given, ada pada pikiran person yang dibicarakan. Tetapi dalam transisi dari analisis tindakan individu (seseorang) ke analisis situasi dalam suatu masyarakat (orang-orang) konsep ini telah menjalani sebuah perubahan makna yang menyesatkan.
|
|
Read more...
|
|
|
Ekonomika dan Pengetahuan jilid I (lawang tani ) |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 04 March 2007 |
|
Ekonomika dan Pengetahuan jilid I (lawang tani )
Kang Didi Sugandi menemukan satu artikel menarik yang menjadi dasar dari pengembangan konsep Lawang tani (lihat di blog ini juga) yaitu berdasarkan tulisan yang dibuat oleh Freidrich Hayek. Tulisan ini adalah terjemahan teks asli Economics and knowledge yang diterjemahkan oleh kang didi.
Ekonomika dan Pengetahuan
oleh Freidrich Hayek
Sambutan kepresidenan disampaikan di hadapan the London Economic Club; 10 November 1936
Teks asli: Economics and Knowledge Reprinted from Economica IV (new ser., 1937), 33-54.
(emphasizes/highlights dsb. ditambahkan oleh penterjemah/penafsir: Didi Sugandi)
Ambiguitas judul paper ini bukanlah sekedar sebuah kebetulan. Subjek utamanya adalah, tentu saja, peran di mana asumsi-asumsi dan proposisi-proposisi perihal pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing dan setiap anggota masyarakat menentukan dalam analisis-analisis ekonomik. Namun tidak berarti ini tak terhubung dengan pertanyaan lain yang bisa didiskusikan di bawah judul yang sama— yaitu pertanyaan sampai seberapa jauh analisis-analisis formal ekonomik menyampaikan pengetahuan tentang hal-ikhwal apa yang terjadi di dunia nyata. Memang, pendapat utama saya adalah bahwa berbagai tautologi [yaitu proposisi atau statement, yang pada dirinya sendiri secara lojik, benar], di mana pada hakekatnya dikandung oleh analisis-analisis equilibrium formal dalam ekonomika, bisa dirubah menjadi proposisi-proposisi yang memberitahu kita segala sesuatu hal-ikhwal sebab-akibat (causation) di dunia nyata, hanya jika kita mampu mengisi proposisi-proposisi formal itu dengan pernyataan-pernyataan definit tentang bagaimana pengetahuan diperoleh (acquired) dan dikomunikasikan. Ringkasnya, saya akan berpendapat bahwa elemen empirik dalam teori ekonomik—satu-satunya bagian yang berurusan bukan saja dengan implikasi-implikasi namun juga sebab-sebab dan akibat-akibat dan yang karenanya memandu ke arah konklusi-konklusi yang, hakekatnya pada kasus manapun, mampu untuk diverifikasi – terdiri dari proposisi-proposisi tentang pemerolehan pengetahuan[1].
Mungkin saya harus mulai dengan mengingatkan anda kembali tentang fakta menarik bahwa dalam cukup banyak upaya akhir-akhir ini yang dilakukan di berbagai bidang berbeda untuk mendorong investigasi teoretikal melampaui limit-limit analisis equilibrium tradisional, jawabnya segera terbukti berpaling kepada asumsi-asumsi yang kita buat berkenaan dengan sebuah point yang, jika tidak identik dengan yang saya miliki, setidaknya sebagian dari itu, sebut saja, berkenaan dengan foresight [kemampuan melihat ke depan]. Saya pikir bahwa bidang di mana, sebagaimana bisa diduga, diskusi awal tentang asumsi-asumsi perihal foresight yang menarik perhatian luas adalah teori resiko (the theory of risk)[2]. Stimulus yang telah dikaji dalam hubungan ini dalam karya Frank H. Knight mungkin sudah membuktikan adanya sebuah pengaruh kuat jauh melampaui bidang khususnya. Tidak lama kemudian asumsi-asumsi yang dibuat berkenaan dengan foresight terbukti menjadi hal penting fundamental bagi solusi perkara pelik teori kompetisi tak-sempurna (imperfect competition), pertanyaan-pertanyaan tentang duopoly dan oligopoly. Sejak itu, telah menjadi semakin nyata bahwa, dalam perlakuan dari pertanyaan-pertanyaan yang lebih "dinamik" tentang uang dan fluktuasi-fluktuasi industrial, asumsi-asumsi yang akan dibuat tentang foresight dan "antisipasi-antisipasi" sama-sama memainkan suatu peran sentral dan bahwa khususnya konsep-konsep yang diambil-alih kedalam bidang-bidang ini dari analisis-analisis equilibrium murni, seperti halnya suatu equilibrium tingkat suku bunga, bisa didefinisikan dengan tepat hanya dalam terms dari asumsi-asumsi berkenaan dengan foresight. Situasinya disini tampaknya adalah, sebelum kita bisa menjelaskan kenapa orang-orang menganut kesalahan, kita harus pertama-tama menjelaskan kenapa orang-orang seharusnya tetap benar. (before we can explain why people commit mistakes, we must first explain why they should ever be right).
Secara umum, tampaknya kita telah sampai ke sebuah titik di mana kita semua sadari bahwa konsep equilibrium itu sendiri bisa dijadikan definite dan jelas hanya dalam terms asumsi-asumsi mengenai foresight, walaupun kita semua mungkin belum sepakat tentang apa persisnya asumsi-asumsi mendasar ini. Pertanyaan ini akan menghuni pikiran saya lebih lanjut dalam essay ini. Sementara ini, saya concerned untuk memperlihatkan bahwa di percabangan jalan saat ini, apakah kita ingin mendefinisikan batas-batas dari ekonomika statik ataupun apakah kita ingin berjalan melampauinya, kita tidak bisa melepaskan diri dari masalah pelik menganggu mengenai dimana sebenarnya asumsi-asumsi tentang foresight ini terletak persisnya di dalam penalaran kita. Mungkinkah ini hanya sekedar begitu saja terjadi?
Sebagaimana telah saya indikasikan, alasan untuk ini bagi saya tampaknya adalah bahwa kita harus berurusan di sini hanya dengan sebuah aspek spesifik dari suatu pertanyaan yang lebih lebar di mana kita harusnya sudah menyikapinya di tahap yang jauh lebih dini. Pertanyaan-pertanyaan mendasar serupa dengan yang telah disebutkan muncul pada kenyataannya begitu kita mencoba mengaplikasikan sistem tautologi--yakni rangkaian-rangkaian proposisi yang penting kebenarannya karena mereka adalah justru transformasi-transformasi dari asumsi-asumsi dari mana kita mulai dan yang mewujudkan content utama dari analisis equilibrium--terhadap situasi sebuah masyarakat (society) yang terdiri dari banyak orang, orang-orang yang independen. Sejak lama saya merasakan bahwa konsep equilibrium itu sendiri dan metode-metode yang kita gunakan dalam analisis-analisis murni memiliki sebuah makna jelas hanya ketika dalam lingkup analisis-analisis dari tindakan seorang individu (tunggal) dan bahwa kita sebenarnya bergerak ke dalam sebuah ruang berbeda dan diam-diam meng-introduksi-kan sebuah elemen sekaligus karakter baru yang berbeda ketika kita menterapkannya terhadap penjelasan mengenai interaksi-interaksi sejumlah banyak individu berbeda-beda.
Saya merasa pasti ada banyak orang yang menatap dengan tak sabar dan tidak percaya pada tendensi keseluruhan, yang inheren dalam semua analisis equilibrium modern, untuk merubah ekonomika menjadi cabang dari logika murni, sebuah susunan proposisi-proposisi yang membuktikan dirinya sendiri (self-evident), yang seperti matematika atau geometri, tidak menjadi subjek terhadap ujian apapun kecuali kepada konsistensi internalnya sendiri. Tetapi tampaknya, andaikata-pun proses ini dibawa cukup jauh, ia telah membawa jawabannya sendiri bersamanya. Dalam pemurnian penalaran kita tentang fakta-fakta kehidupan ekonomik bagian-bagian itu yang sejatinya a priori [diketahui atau diasumsikan tanpa referensi kepada pengalaman], kita tidak hanya mengisolasi sebuah elemen dari penalaran kita sebagai suatu jenis Pure Logic of Choice di dalam segenap kemurniannya tetapi kita juga mengisolasikan, dan menekankan pentingnya, elemen lain yang telah terlalu banyak diabaikan. Kritik saya perihal tendensi masakini untuk membuat teori ekonomik semakin formal bukan hanya karena mereka telah berjalan terlalu jauh namun justru bahwa mereka belum dibawa cukup jauh untuk mengentaskan ketersendirian dari cabang logika ini dan untuk mengembalikan ke tempat yang seharusnya investigasi dari proses-proses causal, menggunakan teori ekonomik formal sebagai suatu piranti dalam cara yang sama sebagaimana matematika.
Namun sebelum saya bisa membuktikan argumen saya bahwa proposisi-proposisi tautologis analisis equilibrium murni seperti itu tidak sertamerta applicable bagi penjelasan-penjelasan tentang relasi-relasi sosial, pertama saya harus memperlihatkan bahwa konsep tentang equilibrium hanya memiliki suatu makna jika diterapkan pada perkara tindakan-tindakan seorang pribadi tunggal (individu) serta mengenai apa makna ini sesungguhnya. Melawan pendapat saya, bisa saja diargumentasikan bahwa disinilah persisnya konsep equilibrium tidak memiliki signifikansi, karena, jika seseorang ingin menterapkannya, yang bisa dikatakan adalah bahwa orang yang terisolasi selalu berada dalam equilibrium. Tetapi statement terakhir ini, walaupun begitu gamblang, tidak memperlihatkan apa-apa kecuali cara di mana konsep equilibrium biasanya disalahgunakan. Apa yang relevan bukan apakah seseorang itu pada equilibrium atau tidak, namun equilibrium yang mana, atau apakah bahwa tindakan-tindakannya berada pada relasi equilibrium satu sama lain. Semua proposisi analisis equilibrium, semacam proposisi bahwa nilai-nilai relatif (relative values) akan [berpadanan, conform, konsisten, atau in agreement, similar atau equivalent] (correspond) dengan biaya-biaya relatif (relative costs), atau bahwa seseorang akan menyamakan (equalize) marginal returns dari sesuatu faktor di dalam berbagai ragam pemanfaatannya, adalah proposisi mengenai relasi-relasi antar tindakan-tindakan (actions). Tindakan-tindakan seseorang individu bisa dikatakan berada dalam equilibrium sejauh hal-hal itu bisa dimengerti sebagai bagian dari suatu rencana (plan). Hanya jika ini kasusnya, hanya jika semua tindakan-tindakan ini telah diputuskan pada sebuah moment (waktu) dan moment yang sama (at one and the same moment), dan dalam kriteria dari sesusunan situasi dan kondisi yang sama (the same set of circumstances), maka barulah statement-statement kita tentang interkoneksi-interkoneksi hal-hal itu, yang dideduksikan dari asumsi-asumsi kita tentang pengetahuan dan preferensi-preferensi orang tersebut, akan bisa memiliki suatu aplikasi. Adalah penting diingat bahwa yang disebut "data," dari mana kita berangkat dalam analisis seperti itu, adalah (terlepas dari selera seseorang) semua fakta yang diketahui (given) pada person bersangkutan, hal-hal sebagaimana segala sesuatu diketahui (atau diyakini) oleh orang itu sebagai hal yang eksis, dan bukan, secara lugas-nya, fakta-fakta obyektif. Adalah hanya karena demikian maka proposisi-proposisi yang kita deduksikan perlu valid secara a priori, dan, karenanya maka kita akan bisa memelihara konsistensi dari argumen[3].
Dua konklusi utama muncul dari pertimbangan-pertimbangan ini adalah, pertama, bahwa, karena relasi-relasi equilibrium exist antara tindakan-tindakan berurutan seseorang hanya sejauh hal-hal itu adalah bagian dari eksekusi dari rencana yang sama, tiap perubahan dalam pengetahuan relevan orang itu, yakni, tiap perubahan yang membawa dia merubah rencananya, mengganggu relasi equilibrium antara tindakan-tindakan yang dia lakukan sebelum, dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya sesudah terjadi perubahan dalam pengetahuan dia. Dengan kata lain, relasi equilibrium meliputi hanya tindakan-tindakannya selama kurun waktu dimana antisipasi-antisipasinya terbukti kebenarannya. Kedua, bahwa, karena equilibrium adalah sebuah relasi antar tindakan-tindakan, dan karena bahwa tindakan-tindakan seseorang pasti berlangsung dalam urutan waktu, maka nyata bahwa perlaluan waktu (the passage of time) adalah sangat mendasar untuk bisa memberi suatu makna terhadap konsep equilibrium. Ini perlu dinyatakan, karena banyak ekonom tampaknya telah tidak mampu menemukan sebuah tempat bagi waktu dalam analisis-analisis equilibrium dan karenanya telah menyarankan bahwa equilibrium harus dipersepsikan (conceived) sebagai timeless. Bagi saya ini terlihat sebagai sebuah statement yang tak bermakna.
Sekarang, selain dari apa yang telah saya katakan sebelum ini tentang makna meragukan dari analisis equilibrium dalam pengertian ini jika diterapkan pada kondisi-kondisi sebuah masyarakat kompetitif, tentu saja saya tidak ingin menyangkal bahwa konsep itu semula diintroduksikan justru untuk mendeskripsikan gagas tentang suatu keseimbangan antara tindakan-tindakan dari banyak individu berlainan. Semua yang telah saya argumentasikan sejauh ini adalah bahwa pembacaan di mana kita menggunakan konsep equilibrium untuk mendeskripsikan (describe) interdependensi berbagai tindakan berbeda dari seseorang tidaklah sertamerta memungkinkan aplikasinya kepada relasi-relasi antar tindakan-tindakan dari sejumlah orang yang berbeda-beda. Pertanyaan sesungguhnya adalah guna apa yang kita buat dari hal itu (what use we make of it) ketika kita bicara tentang equilibrium dengan rujukan kepada sebuah sistem kompetitif.
Jawaban pertama yang akan tampak sebagai jabaran dari penghampiran kita adalah bahwa equilibrium di dalam hubungan ini eksis jika tindakan-tindakan dari segenap anggota masyarakat dalam suatu kurun waktu (period) adalah segenap langkah (execution) dari rencana-rencana individual mereka masing-masing atas apa yang mereka masing-masing telah tetapkan di awal kurun waktu. Namun, ketika kita bertanya lebih lanjut, persisnya ini mengimplikasikan apa, terlihat bahwa jawaban ini memunculkan lebih banyak kesulitan alih-alih ia memecahkan persoalan. Tidak ada suatu kesulitan khusus mengenai konsep tentang seorang yang terisolasi (atau sebuah kelompok orang diatur diarahkan oleh salahsatu dari mereka) bertindak dalam sebuah kurun waktu menuruti suatu rencana yang telah dibentuk dalam pikiran (preconceived plan). Dalam kasus begitu, rencana tidak perlu memenuhi kriteria khusus apapun agar bahwa eksekusinya bisa dimengerti, dibayangkan atau diyakini (be conceivable). Mungkin saja, bisa, didasarkan pada asumsi-asumsi yang salah mengenai fakta-fakta eksternal, dan dalam hal ini mungkin harus dirubah. Akan tetapi akan selalu harus ada serangkaian kejadian (event) eksternal yang memungkinkan pemahaman (conceivable) yang akan membuatnya bisa untuk meng-eksekusi rencana sebagaimana asalnya dibayangkan (conceived). |
|
|
The Art of War (Sun Tzu) I |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 04 March 2007 |
Seringkali kalau di toko buku macam di Kinokuniya , atau di waterstone , buku buku tentang militer terutama tentang Sun Tzu banyak terlihat. Terutama di Singapore dan Hongkong , buku buku ini dibahas khusus. Ada banyak versi tentang Art of War nya Sun Tzu ini dan kebanyakan strategi Sun Tzu ini di aplikasikan pada dunia bisnis. Bisa dipahami mengapa banyak di aplikasikan dalam dunia Bisnis. Karena antara dunia militer dan dunia bisnis mempunyai banyak kemiripan.
Kalau dilihat dari pemikiran Sun Tzu tersebut , pokok pokok dari suatu 'perang' juga tidak akan berubah dari tahun ke tahun , yang membuat berubah hanya medan nya saja dan strategi nya.
Berikut ini saya sarikan pokok pokok art of War nya Sun Tzu. Seharusnya kita juga harus banyak mengkaji macam pemikiran /strategi Pokok pokok Gerilya nya AH Nasution untuk banyak hal terutama untuk menenangkan bisnis.
--------------------------
Pemikiran Militer Jepang dan Sun Tzu
"Dalam bergerak, hendaknya secepat angin; Dalam gerakan lambat, hendaknya seanggun rimba belantara; Dalam menggerebek dan menjarah, mengganaslah seperti api Dalam bertahan, bertahanlah sekokoh gunung dalam penyamaran , hendaknya anda tak tertembus seperti gelapnya malam Dan bila menyerang, anda harus melanda seperti guntur
Militerisasi dalam praktik bisnis Jepang
Dalam tahap awal ; Peniru Dalam tahap kedua ; Perbaikan kecil dalam proses Tahap ketiga : Improvisasi Tahap keempat : Berinovasi Tahap akhir : Penciptaan
Perang dan bisnis Militer dan manajemen Garis Besar model art of war Sun Tzu Seni manajemen strategis dan pemikiran Seni manajemen strategis Para guru seni berperang Pemikiran kembali Jepang Kesimpulan
Pelaksanaan Strategi : Faktor Operasional Kecepatan dalam pelaksanaan
" Kecepatan adalah intisari perang. Manfaatkan ketidaksiapan musuh; ambillah jalan yang tidak ia duga; dan serang tempat tempat di mana ia tidak mengadakan persiapan "
Penjadwalan waktu "Ketika hantaman burung elang mematahkan badan mangsanya, hal itu terjadi karena penjadwalannya y ang sempurna"
" Biasanya mereka tyang sampai dan menduduki medan pertempuran lebih awal, mempunyai kesempatan untuk beristirahat dan menunggu musuh. Mereka yang datang lambat terpaksa tergesa gesa terlibat dalam pertempuran ketika mereka sudah lelah dan kehabisan tenaga"
Momentum Menghindari kampanye berkepanjangan Daya penyesuaian dalam manuver Bentuk dan keluwesan
"Prinsip panduan dalam taktik militer dapat disamakan dengan air. Sama seperti air mengalir menghindari ketingggian dan bergegas mengalir ke daratan rendah, suatu tentara harus menghindari menyerang yang kuat dan sebaliknya menghantam yang lemah"
"Seperti juga air yang membentuk dirinya sesuai dengan medan, suatu tentara harus mengelola kemenangannya sesuai dengan keadaan musuh. Sama seperti air, yang tidak mempunyai bentuk tetap, dalam perangpun tidak ada aturan atau ketentuan tetap.
Daya innovasi " Karena itu jangan mengulang taktik yang sudah membawa kemenangan, tetapi ubahlah sesuai dengan keadaan "
" ia harus mampu mengubah metode dan jadwalnya sehingga tidak ada yang tahu maksudnya. Ia harus mampu memindahkan lokasi perkemahan dan rute perjalanannya sehingga tidak seorangpun dapat meramalkan gerakannya"
Penggunaan inisiatif Tipu-daya dalam tindakan dan strategi Umpan
" Dengan memberikan umpan pada musuh, ia dapat dipikat untuk datang atas kemauannya sendiri "
" Berikan umpan kepada musuh untuk memikatnya; dan bila ia sdh dalam keadaan kacau,hantamlah "
Khayalan dan pura pura
" Karena itu jika mampu, anda berpura pura tidak mampu; jika aktif, berpura pura tidak aktif, Bila berada dekat dengan sasaran, berlagak seperti anda masih jauh; bila masih jauh ; tampakkan seperti sdh dekat."
" Pada permulaan pertempuran , hendaknya anda malu malu seperti perawan supaya dapat memikat musuh dan menurunkan pertahanannya. Jika pertempuran sudah berlangsung b eberapa lama, anda harus secepat kelinci sehingga dapat memanfaatkan ketidaksiapan musuh".
Untuk berpura pura bingung ,seseorang harus punya disiplin , untuk berpura pura menjadi pengecut, seseorang harus memiliki keberanian ; untuk berpura pura lemah, seseorang harus memiliki keunggulan dalam kekuatan. karena itu , kemenangan yang direbut oleh seorang ahli perang tidak pernah memberikannya reputasi kearifan atau keberanian "
Penggunaan arah tindakan multpel atau tidak disangka untuk mengejutkan lawan " Dia yang tahu bagaimana menggunakan pendekatan langsung dan tidak langsung, akan meraih kemenangan, Itu yang dinamakan seni me-manuver"
" Jika ada yang bertanya : " Apa yang harus saya lakukan apabila dihadapkan pada pasukan musuh yang besar dan tersusun rapi dan bersiap siap memasuki wilayah saya ? Jawaban saya adalah : " yang pertama anda harus lakukan ialah merebut sesuatu yang sangat berharga bagi musuh, dan ia akan tunduk pada keinginan anda " " Sebab itu jangan mengulang taktik yang sudah pernah membawa kemenangan. tetapi hendaknya itu selalu diubah ubah sesuai dengan keadaan "
Memanfaatkan sarana yg ada Memperkirakan reaksi musuh dan perubahan dalam lingkungan Kecurangan,penipuan dan koruspi dalam bisnis dan politik Pengkajian Strategi Pengkajian subyektif
"Barang siapa yang memiliki pengetahuan mendalam tentang dirinya sendiri dan musuh ditakdirkan u ntuk memenangkan semua pertempuran. Barangsiapa yang akan memahami dirinya sendiri tetapi tidak dapat memahami musuhnya, hanya memiliki peluang sama besar untuk menang. Barangsiapa yang tidak memahami dirinya sendiri dan juga musuhnya, ditakdirkan untuk kalah dalam pertempuran "
Dan
" Kenalilah musuh anda, kenalilah dirimu sendiri dan kemenangan anda tidak akan terancam. Kenali lapangan, kenali iklim dan kemenangan anda akan lengkap "
" Karena itu panglima yang arif harus mempertimbangkan baik faktor menguntungkan maupun faktor y ang tidak menguntungkan. Dengan memperhitungkan faktor tidak menguntungkan di dalam faktor yang menguntungkan, ia dapat memastikan bahwa rencananya itu layak. Dengan memperhitungkan faktor menguntungkan di dalam faktor tidak menguntungkan, maka ia dapat memecahkan kesulitan"
Dia yang tahu kapan harus berlaga dan kapan tidak, akan menang ; Dia yang tahu bagaimana sebaiknya menyebarkan kekuatan besar dan kecil, akan menang : Dia yang memiliki tentara yang bersatu dalam tujuan, akan menang ; Dia yang sudah mempersiapkan diri untuk memanfaatkan peluang, akan menang : Dia yang mempunyai panglima yang mampu dan tidak dipengaruhi oleh penguasa. akan menang "
Sasaran strategis " jangan anda bertindak terkecuali ada keunggulan pasti yang anda peroleh; Jangan menggunakan pasukan terkecuali anda dapat berhasil : jangan berlaga terkecuali anda dalam bahaya "
" Di jaman dahulu, mereka yang ahli dalam ilmu perang memperoleh kemenangan dengan menaklukkan musuh yang mudah ditaklukkan "
" Kemenangan dapat diperoleh tanpa membuat kesalahan. Alasan mengapa ia tidak membuat kesalahan adalah karena ia memastikan setiap gerakan yang ia buat dan menaklukkan musuh yang sudah kalah "
Kesuian strategis
Keunggulan strategis
Penjadwalan waktu strategis
Pengkajian numerik " Unsur ilmu perang yang pertama adalah pengukuran, kedua, perkiraan biaya, ketiga perhitungan kekuatan; keempat menimbang peluang dan kelima merencanakan kemenangan
"Berdasarkan sifat sifat lapangan, diperoleh suaty pengukuran ruang. Berdasarkan pengukuran ruang dibuat perkiraan biaya. Berdasarkan perkiraan biaya, dibuat perhitungan kekuatan. Berdasarkan perhitungan kekuatan, dipertimbangkan kemungkinan untuk keberhasilan dan kegagalan. Atas dasar pertimbangan kemungkinan, maka dimulai perencanaan kemenangan "
Pengukuran ruang Perkiraan biaya Perhitungan kekuatan Menimbang kemungkinan menang atau kalah Merencanakan kemenangan
Contoh Penerapan dalam bisnis Menentukan bisnis seseorang (mengukur ruang) Memperkirakan kekuatan finansial atau pengeluaran Memperhitungkan sumber Menimbang peluang untuk meraih keberhasilan Taktik dan rencana fungsional (merencanakan kemenganan) Perumusan strategi
Prinsip pemusatan kekuatan Prinsip Sun Tzu tentang pemusatan kekuatan mengakui bahwa kekuatan relatif di titik kontak. dan bukan kekuaan absolut, mementukan hasil akhir pertempuran. Prinsip ini dibuktikan dengan ungkapan berikut ini :
"Tidak boleh tahu tempat dimana saya berniat menyerangnya, Karena jika ia tidak mengetahuinya, maka ia harus mempertahankan banyak tempat. Dan semakin banyak tempat yang ia pertahankan maka semakin terpecah kekuatannya sehingga menjadi lebih lemah di setiap titik"
" JIka ia (musuh ) bersiap siap di garis depan, maka garis belakangnya akan menjadi lemah; bila ia mempertahankan garis belakangnya, pertahanan depannya akan menjadi lemah. JIka ia memperkuat sisi kirinya, ia akan memperlemah sisi kanannya; jika ia memperkuat sisi kanannya, ia akan memperlemah sisi kiri. Bila mempersiapkan semua sisi makan ia akan lemah dimana mana"
" Kekuatan suatu tentara tidak bergantung pada pasukan besar. Jangan anda maju dengan mengandalkan pada banyaknya pasukan saja. Sebaiknya seseorang harus memusatkan kekuatannya dan dengan tepat memperkirakan gerakan musuh supaya dapat menjebaknya"
Memilih medan pertempuran untuk memperoleh keunggulan relatif "Jadi saya mengatakan bahwa kemenangan dapat diciptakan. Meskipun musuh mempunyai kekuatan besar, saya dapat mencegahnya untuk menggunakannya"
Memilih kerahasiaan rencana pertempuran sendiri
" jika saya dapat mengungkapkan rencana musuh sementara saya dapat merahasiakan rencaya saya , maka saya dapat memusatkan perhatian sedangkan ia harus membaginya. Dan bila kekuatan saya terpusat sementara kekuatan musuh terbagi bagi, saya dapat melepaskan seluruh kekuatan saya terhadap sebagian kekuatan musuh di setiap titik serangan. DIsana saya akan unggul secara numeruik dan musuh pasti akan berada dalam kesulitan "
" Ia hanya membagi tugas pada prajuritnya, tetapi tidak menerangkan tujuannya ; ia mengatakan kepada mereka untuk mencapai keunggulan tetapi tidak mengatakan bahayanya "
Pengelabuhan
Prinsip menyerang " Perang adalah suatu yang sangat penting bagi negara. ia menyangkut mati hidupnya rakyat dan mempengaruhi kelanjutan atau keruntuhan negara. Ia harus dipelajari dengan sungguh sungguh"
Perlunya Menyerang
" Ketangguhan dalam pertahanan tergantung pada usaha sendiri seseorang, sementara peluang untuk menang tergantung pada musuh. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang dapat membuat diri sendiri tangguh tetapi tidak dapat menyebabkan mush menjadi mudah diserang"
" Di Zaman Kuno, mereka yg ahli dalam ilmu perang membuat diri sendiri tak dapat diserang sebelum menunggu kesempatan mengalahkan musuh"
" Mereka yang tidak dapat menang harus bertahan; mereka yang dapt menang harus menyerang; bertahanlah apabila kekuatan anda tidak mencukupi; menyeranglah bila kekuatan anda berlimpah"
Perlunya menang dengan laba Kebutuhan untuk menganut paham keunggulan relatif dalam jumlah Kemungkinan membuat relung
Prinsip dari Zheng dan qi (kekuatan langsung dan tak langsung Perumusan sasaran dan pilihan medan pertempuran
Perumusan sasaran " Menaklukkan tentara musuh tanpa bertempur langsung; merebut kota kota musuh tanpa serangan yang dahsyat; dan menghancurkan negara musuh tanpa operasi berkepanjangan"
" Tujuan anda adalah merebut semua negara dalam keadaan utuh. Jadi pasukan anda tetap segar dam kemenangan anda menjadi lengkap. INilah ini dari strategi offensif
Memprioritaskan sasaran
" Bentuk tertinggi dari kepimpinan adalah menyerang strategi musuh; Kebijakan terbaik kedua ialah dengan mengacaukan persekutuannya; Setelah itu menyusul menyerang tentaranya ; Kebijakan terburuk adalah mengepung kota kota berbenteng; Mengepung kota dilakukan apabila tidak ada pilihan lain
Menyerang strategi musuh " siapa yang mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dahulu mempunyai waktu untuk beristirahat dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg lambat tiba di medan pertempuran harus dengan tergesa gesa melibatkan diri dalam pertempuran sementara mereka masih lelah dan kehabisan nafas"
Mengacaukan persekutuan musuh
Menyerang tentara musuh
Mengepung kota berbenteng
Sasaran yang dapat dicapai Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif " Perang adalah hal yang sangat vital bagi negara. Perang menyangkut hidup dan matinya rakyat dan mempengaruhi kelanggengan atau keruntuhan negara. Perang harus dipelajari dengan sungguh2 dan mendalam". Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif Perumusan Strategi : pilihan medan pertempuran
• Prinsip memilih medan pertempuran • Prinsip pemusatan kekuatan • prinsip menyerang • Prinsip kekuatan zheng (langsung) dan qi (tidak langsung)
Memilih medan pertempuran
Ada tiga faktor terkait dengan prinsip pemilihan medan pertempuran
• bidang bidang yang memiliki keunggulan menonjol • bidang yang diabaikan oleh musuh • sifat sifat dari medan pertempuran
Bidang yang memiliki keunggulan menonjol
" jangan anda sekali kali menggerakkan pasukan tanpa mengetahui keadaan dari gunung, hutan, lembah berbahaya serta rawa dan sebagainya"
" Kita tidak dapat memperoleh keunggulan dari topologi lokal tanpa menggunakan pemandu lokal"
" Dengan memikat musuh dengan umpat menarik , ia dapat datang atas kemauan sendiri. Dengan menimbulkan kerusakan dan menempatkan rintangan, musuh dapat dicegah untuk menuju tempat yang ia kehendaki"
Dengan menjadi pertama yg menduduki medan
" Siapa yang pertama mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dini, pada umumnya mempunyai waktu untuk beristirahan dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg tiba lambat terpaksa tergesa gesa langsung bertempur sementara mereka lelah dan kehabisan energi.
Dengan memilih medan pertempuran yg lbh menguntungkan diri sendiri daripada musuh " Maka mereka yang terampil dalam ilmu perang selalu akan membawa musuh ke tempat dimana ia ingin bertempur , dan tidak di bawa kesana oleh musuh"
Wilayah yang diabaikan oleh musuh " Untuk memastikan keberhasilan anda dalam menyerang sesuatu adalah dengan menyerang tempat yg tidak dipertahankan oleh musuh atau di mana pertahanannya lemah. Untuk memmasikan bahwa anda dapat mempertahankan apa yang anda pertahankan, ialah dengan mempertahankan tempat yang tidak diserang oleh mush atau tidak dapat digoyahkan oleh serangan"
" Kekuatan suatu pasukan tidak bergantung pada pasukan yang besar"
Ciri ciri medan pertempuran
Medan yang tercerai berai
" jangan bertempur di medan yang tercerai berai"
" Jika berperang dalam medan yang tercerai berai, satukan tekad bulat dari seluruh pasukan " Medan yang dapat di akses
" jangan perkenankan formasi anda sampai terpisah "
" Jaga pertahanan anda dengan keta"
" Hendaknya anda yang pertama menempati kedudukan yang lebih tinggi dan strategis yang menguntungkan bagi jalur pasokan anda sehingga anda memperoleh keunggulan dalam pertempuran "
Medan garis depan
" Jika berada di garis depan, jangan sekali kali anda berhenti "
" hubungkan semua kekuatan anda dengan ketat"
Medan yang menjebak
Medan menjebak adalah medan yang mudah dimasuki akan tetapi sulit untuk meninggalkannya
Medan menyempit " Jadilah pasukan pertama yang menduduki titik titik strategis untuk menunggu kedatangan musuh. jangan menyerang jika kedudukan yang terbatas itu diduduki musuh. Anda hanya menyerang jika pertahanan musuh diposisi yang didudukinya itu lemah"
"ciptakan tipu muslihat"
" rintangan titik titik masuk dan keluar "
Medan kunci
" Dalam medan yang terjal, sayalah yang pertama harus menguasai puncak cerah karena matahari untuk kedatangan musuh. Bila musuh yang mendahului menduduki medan seperti itu, jangan mengikuti tetapi mundur dan usahakan untuk mengumpannya keluar "
" Jangan menyerang musuh yang menduduki medan kunci "
Medan pusat
Strategi SUn Tzu untuk negara yang terkepung , berpusat pada penggunaan diplomasi dengan :
" Memelihara persahabatan dengan negara tetangga "
" Memperkuat hubungan dengan para sekutunya "
Medan yang mengkianati
Medan yg tandus
" Jalan berdiam di medan yang tandus "
Medan yang jauh
Medan serius
" Merampas sumber musuh"
" Lindungi jalur pasokan untuk menjamin arus perbekalan yang tidak terputus "
" Karena itu , panglima yang bijak memasi8kan bahwa pasukannya dapat memperoleh makanan dari musuh , karena satu gerobak perbekalan musuh sama dengan duapuluh miliknya sendiri, dan satu pikul makanan kuda musuh, sama dengan dua puluh ppikul mikliknya sendiri"
" Suatu negara dapat menjadi miskin karena operasi militer disebabkan pengangkutan yang jauh , pengangkutan perbekalan lewat jarak yang jauh menjadikan orang menjadi putus asa "
Medan kematian
" Bertempur "
" Harus dijelaskan sejelas jelasnya , bahwa tidak ada peluang untuk bertahan hidup (terkecual dengan perang) Medan tidak memihak Penerapan Strategi : Faktor Manusia Pendahuluan Penguasa Komando
" Kepanglimaan komandan menunjukkan kepada sifat sifat yang dimiliki panglima seperti kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian dan disiplin "
" Ia dapat terbunuh, jika ia sembrono "
" Jika ia pengecut, maka ia dapat tertawan", Bila lekas marah, ia dapat dihasut ", Jika ia gila hormat, ia mudah dihina"
"Bila ia terlalu perasa terhadap orang, ia mudah dapat digoda"
"Kehancuran suatu tentara dan kematian panglimanya disebabkan oleh kelima kekurangan ini. Sebab itu perlu sekali untuk memahaminya dengan benar "
Berhati hati Kemampuan untuk membuat rencana Kemampuan untuk mengelola tentaranya Kemampuan untuk melaksanakan rencana dengan efektif
Keberanian
Pengendalian diri Seorang panglima tidak melakukan pertempuran karena rasa kebencian
" Sementara kemarahan dapat dikembalikan ke kebahagiaan dan kebencian dijadikan menyenangkan; suatu negara yang hancur tidak dapat dibangun kembali dan orang yang meninggal tidak dapat hidup kembali"
Pragmatisme " JIka situasinya menyenangkan, panglima harus tetap berperang meskipun penguasa mungkin sudah memerintahkan untuk tidak melibatkan diri. Jika situasinya menggambarkan kekalahan, maka panglima tidak boleh berperang walaupun penguasa mungkin sudah memerintahkannya demikian "
Ketulusan
Tentara
Pengendalian "Apabila panglima itu lemah dan tidak disiplin,jika pelatihan dan perintah tidak jelas , bila tugas dari perwira dan bawahan tidak berbeda, dan susunan pasukan itu lamban, maka hasilnya adalah disorganisasi mutlak"
" Jika seorang panglima membelai pasukannya tetapi tidak dapat menggunakannya; jika ia menyayangi mereka secara berlebihan tetapi tidak dapat memberikan perintah ; jika pasukannya tidak teratur tetapi ia tidak dapt mendisiplinkan mereka; maka mereka lebih mirip gerombolan yang dimanjakan dan tidak berguna sama sekali" Komunikasi " The book of military managemen mengatakan : karena suara manusia dalam pertempuran tidak dapat terdengar, gunakanlah gong dan genderang; karena mata dari kejauhan tidak dapat melihat arah dan gerakan manusia, maka gunakanlah panji panji dan bendera "
" karena itu gunakanlah sebanyak mungkin obor dan genderang dalam serangan malam hari; di siang hari, gunakanlah sebanyak mungkin panji dan bendera. Tanda yang berbeda ini dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian dari alat pendengaran dan penglihatan "
Moral " Bila kemenangan tertunda terlalu lama, semangat dan moral pasukan akan menurun"
" Dalam tahap awal pertempuran, semangat pasukan tinggi; kemudian hal itu menurun berangsur angsur; pada tahap akhir semangat mereka rendah dan mulailah masuk pikiran rindu kampung halaman. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang menghindar dari menyerang musuh saat semangat mereka masih tinggi, tetapi menyerang mereka pada saat semangatnya mengendor dan para serdadu sudah ingin pulang. Ini yang disebutkan sebagai pengendalian faktor moral"
" Jangan melawan musuh yang mendekat dengan panji panji teratur dan rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang kuat dan mengesankan. Inilah pengendalian dari faktor keadaan y ang berubah" " Gunakan disiplin dan ketertiban untuk mengimbangi ketidaktertiban musuh ; gunakan ketenangan untuk menangani situasi yang kacau. Ini adalah pengendalian faktor emosional"
" Manfaatkan kedekatan dengan medan tempur untuk mengimbangi jarak dengan musuh; gunakan istirahat untuk mengimbangi kelelahan musuh ; dan pasukan yang bergizi baik untuk mengimbangi pasukan musuh yang kelaparan. INilah pengendali faktor fisik
Pengendalian Strategi
Prinsip Dinas rahasia
Prinsip keamanan
Menilai Situasi
Prinsip perencanaan terinci Dengan Perencanaan yang seksama dan terinci, anda dapat menang , dengan perencanaan yang gegabah dan tidak terinci, anda tak mungkin menang. Dan kekalahan akan menjadi kepastian jika anda tidak mempunyai rencana sama sekali ! Dari cara perencanaan dilaksanakan sebelumnya, kita dapat meramalkan kemenangan atau kekalahan.
Pra-syarat membuat rencana
Pengaruh Moral
Iklim Siklus bisnis Kondisi yg menguntungkan/tidak Norma kebudayaan dan sosial Tingkat teknologi serta laju perubahan teknologi Perubahan dalam susunan pasar Faktor ekonomi
Lapangan Bila lokasi sebuah perusahaan sudah diterapkan maka hal itu menentukan sifat persaingannya : • pasokan bahan mentah • tenaga kerja yang murah dan effisien • pasar modal • pasokan mesin dan peralatan • bakat dan ketrampilan manajerial • teknologi dan pusat riset dan pengembangan • pasar konsumen, baik lokal maupun luar negeri • jasa infrastruktur seperti telekomunikasi , fasilitas pengangkutanm pasokan air dan listrik , kemudahan pergudangan
Medan operasi sulit atau mudah ?
Apakah medan itu terbuka/ terbatas ?
Jarak medan pertempuran dari lokasi perkemahan
Derajat bahaya yang ditimbulkan Kepemimpinan
5 sifat negatif pemimpin . "Jika berani tanpa perhitungan, ia dapat terbunuh; " Jika ia pengecut, maka ia dapat ditawan; "Bila cepat naik pitam, ia mudah dihasut " Bila ia gila hormat, maka ia mudah dihina " JIka ia mudah terhadap rakyat , maka ia mudah diusik Kearifan
Ketulusan
Kebapakan
Keberanian
Kekerasan
Doktrin (hukum) " jika tentara bingung dan curiga, maka negara tetangga pasti akan menimbulkan masalah. Hal ini sama dengan , pepatah " tentara yang kebingunan pasti memberi kemenangan musuh"
" jangan terlibat perang dengan musuh yang bendera perangnya tertaur rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang terkuat dan mengesankan
" Pengelolaan pasukan yang besar sama saja dengan pengelolaan pasukan kecil. Yang penting adalah penyusunan dan pengorganisasiannya
" Mengendalikan pasukan yang besar dalam pertempuran serupa dengan pengendalian pasukan kecil. Semua itu persoalan penyusunan dan pemberian tanda"
" Disiplin atau tidak disiplin tergantung pada organisasi "
Kekuatan " Jika jumlah anda lebih banyak berbanding sepuluh lawan satu, kepunglah musuhmu: Jika perbandingan itu lima lawan satu , serang mereka Bila perbandingan dua lawan satu, hendaknya anda memecah-belah mereka Bila anda seimbang, anda dapat memilih untuk bertempur Jika sedikit lebih lemah dari musuh, anda harus mampu menarik diri Jika sangat lemah, hindari pertempuran Sebab bagaimanapun tegarnya, pasukan kecil akan menyerah pada kekuatan yang lebih besar dan unggul"
" Sebab itu , suatu tentara yang tidak memiliki peralatan berat akan kalah dalam pertempuran; tentara yang tidak mempunyai bahan makanan tidak dapat bertahan hidup; tentara yang tidak mempunyai persediaan tak mungkin melanjutkan pertempuran"
Pelatihan " Kekuatan suatu balatentara tidak tergantung pada kekuatan yang besar. Janganlah anda maju dengan hanya mengandalkan pada kelebihan numerik mutlak
" Sebab itu , dia (panglima) mampu memilih orang yang mampu memanfaatkan situasi |
|
|
Beberapa Pengertian Dasar Tentang Proses Perancangan |
|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 03 March 2007 |
|
Bahan ini saya dapatkan dari Prof Saswinadi Sasmodjo (TK), banyak hal semacam ini yang dapat terus dikembangkan untuk memperdalam dan mempertajam kajian kajian yang telah dilakukan senior senior kita. Beberapa pokok pokok pikiran juga perlu diperdalam kembali.
Beberapa Pengertian Dasar Tentang Proses Perancangan 1.1 Fenomena atau masalah atau gejala adalah segala suatu yang dapat kita lihat , alami atau rasakan. Suatu kejadian adalah suatu fenomena, Suatu benda merupakan suatu fenomena , karena merupakan sesuatu yang dapat kita lihat , adanya suatu benda juga menciptakan keadaaan ataupun perasaan, yang tercipta dengan adanya benda tersebut. Istilah masalah yang dijadikan padanan dari istilah fenomena harus dibedakan dari persoalan. Masalah mempunyai pengertian netral , sedangkan persoalann mengandung pengertian memihak. Suatu persoalan juga merupakan suatu masalah atau gejala dan karena juga merupakan suatu fenomena. Persoalan merupakansuatu fenomena yang kehadirannya tak dikehendaki . Penyelesaiannya terhadapap suatu persoalan pada hakekatnya adalah suatu usaha dan tindakan untuk meniadakan persoalan tersebut. 1.2 Struktur suatu fenomena Yang dimaksud dengan struktur suatu fenomena adalah unsur unsur pembentuk fenomena dan hunbungan saling pengaruh (atau pola keterkaitan) yang ada diantara unsur unsur pembentuk fenomena tersebut. Yang penting untuk diingat adalah suatu fenomena terdiri dari unsur unsur fenomena tersebut dan pola keterkaitannya. 1.3 Sistem Yang dimaksud dengan sistem adalah fenomena yang telah diketahui strukturnya 1.4 Fungsi fungsi suatu sistem Yang dimaksud dengan fungsi fungsi suatu sisten adalah kemampuan kemampuan yang dimiliki oleh sistem tersebut dan memungkinkan sistem melaksanakan berbagai operasi, sehingga sistem tersebut dapat berperan di lingkungan dimana sistem berada 1.5 Analisis Melakukan analisis berarti melakukan kajian untuk mengenali struktur suatu fenomena. Analisis dilaksanakan dengan melakukan telaah terhadap fenomena secara keseluruhan, maupun terhadap bagian bagian yang membentuk fenomena tersebut serta hubungan keterkaitan diantra unsur unsur pembentuk fenomena secara keseluruhan, maupun terhadap bagian bagian yang membentuk fenomena tersebut serta hubungan keterkaitan diantara unsur unsur pembentuk fenomena tersebut. Pengetahuan tentang struktur suatu sistem yang diperoleh dengan melakukan analisis terhadapap fenomena sistem tersebut, memungkinkan dikenalinya fungsi-fungsi yang dapat ditegakkan oleh sistem, serta kelakuan dan dinamika sistem tersebut. Dikenalinya fungsi fungsi yang dapat ditegakkan sistem memungkinkan seseorang untuk menggagaskan kemungkinan-kemungkinan kemanfaatan sistem, maupun langsung memanfaatkan sistem tersebut. Di dalam ilmu teknik dan berteknologi, analisis lazimnya terkait dengan persoalan yang dapat diungkakan dengan pertanyaan pertanyaan berikut : “Bagaimana dapat memanfaatkan struktur dan fungsi -fungsi yang dimiliki sistem itu” dan/ atau pertanyaan berikut : “Bagaimana cara mempengaruhi kelakukan sistem tersebut, sehingga dapat dioperasikan dengan pola laku tertentu yang dikendaki “ yang berart mempertanyakan bagaimana cara mengendalikan sistem. 1.6 Simulasi Simulasi adalah suatu kajian untuk mengenali kelakuan suatusistem melalui modelnya. Kiranya jelas bahwa pelaksanaan simulasi selalu memerlukan model dari sistemnya. Pemahaman kelakuan proses melalui modelnya dengan cara simulasi memungkinkan terhindarinya upaya yang terlalu banyak memerlukan sumber daya dan dana. 1.7 Sintesis Sintesis merupakan aktivitas dan alur pemikiran di dalam memadukan konsepsi-konsepsi dan obyek-obyek fisik beragam tetapi mempunyai kompabilitas, menjadi suatu kesatuan, sehingga membentuk suatu sistem. Di dalam ilmu teknik dan berteknologi, persoalan sintesis dapat diungkapkan dalam bentuk pertanyaan berikut : “ Bagaimana cara membuat suatu “artifact” (obyek buatan) atau suatu tatanan kerja yang mempunyai fungsi dan pola laku serta ciri tertentu dari sistem sistem yang ada atau telah tersedia “ atau “Bagaimana struktur struktur yang ada/ tersedia dapat dirakit ataupun ditata kembali untuk mendapatkan struktur lain yang dapat menghasilkan fungsi fungsi dan ciri-laku tertentu yang dikendaki ? “ 1.8 Merancang Merancang merupakan suatu aktivitas untuk : a. mendefinisikan bagaimana struktur dari sitem yang ingin diciptakan ,dan b. merumuskan bagimana cara membentuk struktur tersebut. Catatan : (1) kegiatan merancang merupakan kegiatan yang bertujuan menciptakan sesuatu (2) proses pemikiran dan kegiatan kegiatan dalam merancang memerlukan pendekatan yang lebih bersifat sintesis ,walaupun di dalam merancang diperlukan juga aktivitas analisis ; a. kegiatan yang bersifat sintesa dalam merancang tertuju kepada upaya untuk meyusun struktur yang perlu dibentuk (tentunya dari struktur - struktur yang ada) b. setelah tersusun yang dikehendaki, tindakan berikutnya adalah merumuskan cara tentang bagaimana struktur tersebut harus dibentuk , dan sejajar dengan itu melakukan pengujian apakah struktur yang dihasilan memenuhi tujuan perancangannya. (3) merancang dalam ilmu teknik harus berpedoman pada norma norma : a) sistem yang diciptakan harus dapat dibentuk dan dioperasikan secara effisien,baik terhadap penggunaan sumber - sumber fisik ,waktu dan dana; b) sistem yang diciptakan tidak menimbulkan disrupsi yang menggoncang tatalingkungan , maupun membahayakan lingkungan tersebut, fisik maupun sosial (4) merancang dilakukan dalam upaya untuk menanggapi/memenuhi suatu kebutuhan yang timbul karena adanya suatu keinginan ; (5) kegiatan analisis juga diperlukan setelah wujud rancangan terbentuk , untuk mengevaluasi dan menguji apakah sistem yang terancang tersebut dapat merealisasikan fungsi fungsi yang diinginkan tertegakkan, sesuai dengan tujuan dirancangnya sistem, serta menguji apakah persyaratan- persyaratan yang harus dipenuhi sistemnya terpenuhi. a) pemahaman terhadap kebutuhan yang terkandung di dalam suatu keinginan; b) memahami dan mendefinisikan secara spesifik apa kebutuhan tersebut; c) mencari pilihan cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut; d) memilih cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan e) merumuskan fungsi fungsi yang perlu ditegakkan untuk mewujukan cara pemenuhan kebutuhan (6) kegiatan analisis juga diperlukan setelah wujud rancangan terbentuk, untuk mengevaluasi dan menguji apakah sistem yang terancang tersebut dapat merealisasikan fungsi fungsi yang diinginkan tertegakkan, sesuai dengan tujuan dirancangnya sistem, serta menguji apakah persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi sistemnya terpenuhi. |
|
Last Updated ( Saturday, 03 March 2007 )
|
|
|
Peran Sosial Siaran Radio |
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 26 November 2006 |
|
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/20/0903.htm Peran Sosial Siaran Radio Peran Sosial Siaran Radio Oleh M.Z AL-FAQIH MASIH segar dalam ingatan saya. Saat itu adalah awal Juni 2006, di bulan itu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Jawa Barat menugaskan saya untuk melakukan verifikasi faktual terhadap para pemohon izin penyelenggaraan penyiaran di wilayah Priangan timur. Satu per satu para pemohon izin saya datangi guna mencocokkan data administratif dengan realitas di lapangan. Di salah satu kabupaten saya sempat terkejut ketika dihadapkan pada sebuah fakta bahwa terdapat penyiar radio yang kurang memahami arah dan tujuan sistem penyiaran nasional. Mereka juga tidak menguasai regulasi yang berlaku. Lebih parah lagi, mereka tidak memahami prinsip-prinsip jurnalisme, termasuk bagaimana memberitakan sesuatu secara berimbang. Mereka hanya mengerti teknis menyiarkan program acara, hanya itu! Saat hal itu saya pertanyakan, mereka berusaha menghindar dengan alasan bahwa hal itu tidak disyaratkan oleh para pemilik radio. Saya cukup miris mendengar jawaban tersebut karena bagaimanapun juga radio adalah sebuah media yang berinteraksi langsung dengan massa (baca: publik). Ketika radio tidak mengedepankan prinsip-prinsip yang berlaku di dunia penyiaran,bukan tidak mungkin di kemudian hari radio dapat melenceng bahkan bertabrakan dengan kepentingan publik. Sebagai contoh, pada saat menghadapi pemilihan kepala desa, karena tidak mengerti tentang prinsip-prinsip penyiaran, bisa saja para penyiar menganggap bahwa berpihak kepada salah satu calon bukanlah sebuah kesalahan. Bila para penyiar memahami ketentuan yang berlaku, fenomena seperti itu tidak perlu terjadi. Radio adalah milik publik yang salah satu indikatornya adalah karena frekuensi milik publik. Tuntutan agar radio bersikap independen menjadi mutlak adanya. Maka kesempatan bertatap muka seperti itu saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menjelaskan regulasi, arah, dan tujuan sistem penyiaran nasional, termasuk bagaimana radio memberikan kenyamanan bagi khalayak pendengarnya. Tanya jawab berlangsung dalam suasana santai dan akrab. Tanggung jawab sosial Radio memiliki tanggung jawab sosial. Radio harus mampu menjadi pengemban amanah masyarakat. Di Jawa Barat, banyak radio yang telah menjalankan fungsi tersebut. Di Kabupaten Subang, saya menemukan sebuah radio yang mampu mendamaikan perselisihan antarwarga yang disebabkan oleh pertikaian politik dalam pemilihan kepala desa. Yang awalnya antarwarga yang berbeda calon tak saling menyapa, berkat upaya radio ini keadaan kembali menjadi normal seperti sediakala. Radio itu juga berhasil membangun semangat kebersamaan antarwarga, yakni dengan mampu mengajak warga untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang muncul. Salah satunya adalah penanganan limbah buangan sebuah pabrik yang sangat merugikan para petani. Radio tersebut telah menjadi radio kebanggaan warga. Dalam kesehariannya, melalui kekuatan informasi yang dimilikinya, radio ini lebih mementingkan menyiarkan kebutuhan konkret warga dibanding sesuatu yang jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari warga. Misalnya, para penyiar radio ini lebih tertarik memberitakan berita kehilangan kambing milik warga dibanding memberitakan perjalanan pejabat negara ke luar negeri. Masih di Subang, saya juga menemukan sebuah radio yang dikelola oleh anak-anak muda yang aktif dalam kajian sastra dan kebudayaan. Acara yang disiarkannya selalu bermuatan kebudayaan. Mereka juga memiliki program-program off-air yang semuanya bermuara pada masalah sastra dan kebudayaan. Diskusi kebudayaan bersama komunitasnya digelar secara reguler. Selain itu, diskusi khusus bedah buku sastra juga sering dilakukan. Dalam gedung studio yang tidak terlalu luas, mereka mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku sastra dan kebudayaan yang memang diperuntukkan bagi para anggota komunitas mereka. Talkshow yang dilakukannya pun membedah masalah-masalah kebudayaan. Dari fenomena yang saya temui itu, saya melihat secercah harapan, bahwa di tengah terpaan arus kebudayaan pop yang lebih mengedepankan sesuatu yang serba instan, ternyata tidak lantas membuat seluruh anak negeri lupa terhadap tradisi dan kebudayaannya sendiri. Kita harus bangga terhadap anak-anak itu, karena anak-anaklah yang di masa depan akan menopang nasib bangsanya. Melihat kiprah anak-anak itu saya jadi teringat kisah Pramoedya Ananta Toer dalam novel sejarahnya yang berjudul "Anak Semua Bangsa". Pram menegaskan bahwa perubahan dalam sebuah negeri amat ditentukan oleh anak-anak bangsanya itu. Jika anak-anak bangsa tidak mengenal kebudayaan bangsanya, maka akan sulit bagi mereka untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya. Di Kabupaten Indramayu, saya mendapati fenomena menarik lainnya; ada sebuah radio yang berhasil meningkatkan kecerdasan warga komunitasnya. Radio tersebut dalam program acaranya memuat program yang bermaterikan pelajaran-pelajaran yang diperuntukkan bagi anak usia sekolah yang putus sekolah. Menurut penuturan pengelola radio ini, kegiatan ini dimaksudkan untuk ikut memberantas buta huruf di wilayah Kabupaten Indramayu. Masyarakat menyambut baik kegiatan ini, bahkan aparat pemerintah kecamatan pun turut mendukung program tersebut. Penyajian materi pelajaran dikemas dengan santai, sehingga pendengar yang diajak belajar secara interaktif melalui radio tidak merasa jenuh. Apa yang telah dilakukan radio ini sejalan dengan program pemerintah dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Barat. Apalagi melihat kenyataan di Jawa Barat bahwa jumlah buta aksara mencapai 1.512.899, yang terbagi atas 479. 337 laki-laki dan 1.033.562 perempuan. (Pikiran Rakyat, 8/11/2006). Di Kabupaten Cianjur, saya melihat hal yang lain lagi. Atas keprihatinan akan kurangnya informasi tentang pertanian, ada sebuah radio yang khusus menyiarkan informasi tentang pertanian. Informasi yang dimaksud diantaranya mengenai harga pupuk terkini, harga beras di pasaran, hingga informasi tentang daerah mana saja yang membutuhkan pasokan beras. Informasi yang disampaikan ini bersumber dari buku-buku pertanian, surat kabar, hasil wawancara dengan aparat pemerintah, dan dari internet. Melalui jasa radio ini para petani tidak lagi merasa buta terhadap perkembangan pertanian saat ini. Kita patut mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh radio-radio itu. Kemandirian dan komitmen membangun masyarakat bukanlah sekadar wacana tetapi telah dilakukan dalam keseharian. Proses penyadaran dan pembangunan masyarakat seperti di atas ternyata tidak hanya dilakukan radio secara individual, tetapi juga dilakukan secara berkelompok dan bersama-sama. Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Jawa Barat sebagai tempat berhimpunnya radio-radio komunitas yang berdasar kewilayahan saat ini juga tengah melakukan sosialisasi masalah HIV-AIDS kepada masyarakat. Tidak hanya JRKI, Jaringan Radio Suara Petani (JRSP) sejak tahun lalu juga gencar sosialisasi dan mengampanyekan perang terhadap perdagangan manusia. Berbagai upaya meningkatkan pengetahuan seperti; workshop, seminar, dan diskusi tentang modus perdagangan manusia kerap diselenggarakan JRSP dengan melibatkan para anggotanya. Setelah para anggota memahaminya kemudian para anggota tersebut meneruskan informasi ini kepada masyarakat, ada yang dikemas dalam bentuk iklan layanan masyarakat, berita, hingga talkshow interaktif di radio. Melihat kiprah radio-radio tersebut kita menjadi optimis menatap masa depan. Bahwa bangsa yang besar ini jika berkemauan keras dan tekun sesungguhnya peluang untuk maju terbuka lebar. Jadi tunggu apalagi, saatnya kita memulai sebelum segalanya menjadi terlambat. Sekecil apa pun kebajikan yang kita buat amat menentukan bagi kemajuan bangsa di masa depan. *** Penulis, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Jawa Barat. |
|
|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 25 November 2006 |
|
Hari ini sempat baca beberapa hal tentang beberpa hal yang menarik dan perlu untuk disimpan url url nya , antara lain : http://www.ciscopress.com/bookstore/product.asp?isbn=1587201313&rl=1 Ini berkaitan dengan informasi tentang produk cisco untuk simulasi penggunaan router. Simulasi ini dapat digunakan untuk orang orang yang tidak memiliki router cisco dan ingin mendapatkan pengetahuan, skils tentang cisco tersebut terutama router. Model simulasi ini seharusnya yang dapat dikembangkan untuk banyak hal. http://www.idrc.ca/en/ev-105857-201-1-DO_TOPIC.html IDRC ini mengingatkan pada pengembangan digital library ITB yang dulu dikembangkan oleh Ismail Fahmi dan mendapatkan bantuan dari IDRC. http://ez.no/ Site ini di rekomendasikan oleh kang Didi sebagai salah satu CMS (Content Management System) yang dapat digunakan untuk kelas enterprise. Seberapa jauh EZPUBLISH ini powerfull , itu yang belum bisa terjawab, akan tetapi features features nya menarik untuk dicoba dan dikembangkan terutama untuk kelas perusahaan. http://www.eclipse.org/ Site ini direkomendasikan oleh Darmawan dimana awal pembicaraan kita adalah bagaiamana mengembangkan development tools kit yang opensource yang platform nya mirip .NET milik Microsoft. Sepertinya platform yang dikembangkan oleh Eclipse ini menarik terutama tools nya tidak hanya menggunakan Java saja tapi juga bisa berjalan di atas C dan Php. http://www.statsoft.com/textbook/stathome.html Ini adalah salah satu site yang cukup baik untuk belajar statistik.Dan software yang digunakan juga cukup powerfull. Sayang sekali belum banyak di explore penggunaan statistik dan tools nya. http://www.sei.cmu.edu/cmm-p/version2/v2-main.html Dalam proses pengembangan SDM , ada yang dinamakan People CMM (Capability Mature Model). Ini adalah turunan dari CMM yaitu metode yang dikembangkan oleh Univ Carnegie Melon (http://ww.cmu.edu) dalam menstandarkan pekerjaan software dan kemudian metode ini dikembangkan untuk pengembangan SDM terutama yang bekerja dalam software engineering walaupun tidak terbatas juga hanya pada software engineering saja. |
|
Last Updated ( Saturday, 25 November 2006 )
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 31 October 2006 |
|
Dari yg semula pakai Wordpress diganti jadi Joomla. Beberapa comment terdahulu tidak ikut dipindahkan juga. |
|
|
Mohammad Hatta : Indonesia Merdeka |
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 21 August 2006 |
Mohammad Hatta (http://en.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta) atau Bung Hatta , adalah salah seorang proklamator Indonesia. Selain sebagai seorang proklamator , Bung Hatta adalah bapak koperasi Indonesia. Beliau lah peletak dasar dasar koperasi di Indonesia. Tidak banyak tulisan tulisan beliau yang terpublish dalam bidang koperasi, hanya sedikit saja. Saya sendiri masih mencari tulisan tulisan beliau dalam bidang per koperasi an karena memang koperasi adalah bentuk semangat gotong royong dalam membangun ekonomi dan society (lingkungan nya). Ada buku yang menarik yang saya dapatkan dari almarhum pak Mashudi (Letjen, mantan gubernur Jawa Barat, mantan ketua Kwarnas Pramuka) yaitu Indonesia Merdeka. Buku ini berisi pledoi Bung Hatta pada saat diadili di Mahkamah Belanda , Den Haag pada bulan Maret 1928. Saya masih mencari versi ‘elektronik’ nya (Jika ada) , apabila tidak ada , ya terpaksa akan kita scan atau kita tulis ulang, karena buku buku semacam ini sangat penting bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun dan untuk mengetahui pemikiran para pendiri bangsa Indonesia. Secara umum Bung Hatta dalam pembelaan terhadap dirinya , banyak mempertanyakan prinsip prinsip kesetaraan yang dianut oleh bangsa barat terhadap bangsa Indonesia. Bung Hatta banyak membandingkan perlakuan kaum putih (Netherlands) terhadap bangsa Indonesia yang tidak adil. Ada satu hal yang patut dicatat adalah bagaimanapun bangsa Belanda (pada jaman itu) adalah kolonialis, menyedot seluruh harta bangsa Indonesia dan satu hal yang paling dicatat oleh Bung Hatta , bahwa bangsa Belanda (pada kala itu) adalah Rasis , mereka melakukan pertentangan ras (antara kulit putih dan berwarna). Banyak jargon jargon yang di ungkapkan oleh Bung Hatta , misalnya ” Inlander yang tak tahu terima kasih” untuk kaum intelek yang bersekolah pada sekolah Eropa (seperti Bung Hatta) itu berani menuntut hak hak politik untuk rakyat yang menerima dijajah. Atau jargon ” the rising tide of colour”. Kalau dilihat dari buku ini , patutlah kiranya kita sebagai bangsa Indonesia bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan yaitu Kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan ini memang jalan emas bagi kemakmuran. Mudah mudahan apa apa yang dulu pernah diperjuangkan oleh Bung Hatta dapat dipahami oleh masyarakat Indonesia pada saat ini. Sepatutnya lah kita generasi muda selalu membaca sejarah dan menyarikan sari sari perjuangan Bung Hatta dan para pejuang lain nya. |
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 20 August 2006 |
The Daily Drucker, 366 Days insight and motivation for getting the right things done Elsevier Butterworth-Heinemann, 2006 Buku ini bercerita tentang pengalaman Peter F Drucker (http://en.wikipedia.org/wiki/Peter_F._Drucker) adalah seorang pakar manajemen dan pemikirannya banyak mendomininasi buku buku manajemen dan dijadikan referensi untuk banyak kalangan termasuk kalangan akademisi. Buku ini menarik perhatianku , karena Drucker menulis pemikirannya hari ke hari, lengkap selama 365 (366) hari. Salah satu contohnya adalah : 19 August : Entrepreneurial Judo Entrepreneurial Judo turns that what the market leaders consider their strengths into the very weakness that defeat them . The Japaneese judo master looks for strength that is his opponent’s pride and joy. He assumes, and does so with high probability, than the opponent bases his strategy on this strength in every fighth. And then the Judo master figures out where this continuing reliance on a particular strength leaves the opponent vulnerable and undefend. Then he turns his opponent’s strength into the opponent’s fatal weakness that defeats the opponent. Business ,like judo fighters, tend to become set in their behaviour. And then the entreprenurial judo turns what the market leaders consider their strength into the very weakness that defeat them. For example, the japanese became the leaders in one American market after the other : First in copier , then machine tools, then the consumer electronics, then automobile and then in the fax machines. The strategy was always the same. They turned what Americans considered their strength into a weakness that defeat the American companies. The Americans saw high profitability as their greath strength. And thus they focused on the high end of the market and left the market undersupplied and underserviced. The Japanese moved in with the low-cost products with minimum features. The American didn’t even try to fight them. But when Japanese had take over the mass market they had the cash flow to move in on the high-end market, too. And they soon came to dominate both the mass market and the high-end market. Action Point : Be Agile, recognize the strengths of your competitors, and look for opportunities in parts of the market that they have ignored. Disini Drucker menulis bagaimana suatu kondisi dimana produk produk Jepang selalu unggul dalam banyak hal terhadap produk produk Amerika, point nya adalah , “they never Learn ” (Amerika tidak pernah belajar dari kegagalan menguasai pasar ) |
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 23 August 2006 |
|
Salah satu software yang sebenarnya cukup penting terutama bagi orang orang yang ingin menganalisis social network adalah AtlasTI (www.atlasti.de). Software ini cocok digunakan bagi analisis qualitative dalam bidang sosial terutama dalam bidang antropologi budaya. |
|
Last Updated ( Tuesday, 31 October 2006 )
|
|
|