You are here: Home » Ekonomi » [jaring] Fwd: [temu_eropa] Tiongkok-KAPITALIS?

[jaring] Fwd: [temu_eropa] Tiongkok-KAPITALIS?

Ada sedikit sharing informasi tentang Republik Rakyat China (RRC),
saya melihat apa apa yang disampaikan dibawah ini , ada benarnya walaupun saya belum bisa melihat data secara detail karena keterbatasan dll..

Mudah mudahan ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia

————————
Date: Fri, 30 Dec 2005 13:36:06 +0100 (MET)
From: Yayak Yatmaka
Reply-To: jaring@bhaktiganesha.or.id
To: jaring@bhaktiganesha.or.id
Subject: [jaring] Fwd: [temu_eropa] Tiongkok-KAPITALIS?

Ada yang kerjasama dengan RRC?
YK

TIONGKOK:
Api Dalam Sekam Mengintai, Ketika Setiap Hari
Terjadi 200 Demonstrasi

Pao Yu Ching: pada April 2001, penduduk Ta-ching cemas. Ta-ching yang
terletak di sebelah utara Tiongkok itu, menjadi saksi serangkaian
demonstrasi
yang digelar oleh 700.000 buruh. Separuh dari mereka dipecat begitu saja.
Para
buruh tersebut marah terhadap para pemilik pabrik, yang telah memecat buruh
dalam jumlah besar, tanpa kompensasi dalam bentuk apa pun. Mereka juga marah
terhadap pemerintah yang tidak menaruh perhatian terhadap keadaan mereka
serta
menampik seruan keadilan-sosial yang diajukan.

Mungkin diakibatkan oleh keputus-asaan sehingga sejumlah buruh yang tidak
puas dan mereka yang manaruh simpati menempuh tindakan radikal: memasang bom
di sebuah kantor pemerintah setempat. Bom pun meledak dan sang walikota,
wakilnya, sekretaris partai setempat dan sejumlah enam lainnya terbunuh,
termasuk
tiga buruh yang terlibat peristiwa tersebut.

Sebagai jawaban atas tindakan tersebut, pemerintah mengirim 50.000 serdadu
untuk mengepung pabrik-pabrik serta ‘memulihkan ketenangan’. Bak kejutan
besar bagi para serdadu tersebut, justeru mereka yang akhirnya terkepung
oleh
para buruh serta penduduk setempat. Penduduk Ta-ching siap berlawan.

Delapan bulan kemudian, tampak jalan buntu dapat diterobos. Pemerintah dan
para pemilik pabrik terpaksa membayar upah pesangon yang lebih tinggi bagi
buruh-buruh yang dipecat.

Kegelisahan yang meruak “Besar kemungkinan anda pernah mendengar lewat
media tentang peristiwa Ta-ching tersebut. Bukan kah begitu?”, tanya Pao Yu
Ching di hadapan hadirin peserta ceramah pada 10 September 2005 yang lalu di
Utrecht [Negeri Belanda]. Pao adalah pensiunan guru besar Marygrove College
di
Michigan, Amerika Serikat. Di samping itu, beliau juga seorang pakar ternama
di bidang studi Tiongkok. Ceramah tersebut dikelola oleh ILPS (Liga
Internasional Perjuangan Rakyat), dan para pesertanya mencakup berbagai
bangsa, bahkan
sejumlah dari mereka khusus datang dari Jerman, Belgia, Luksemburg dan
Inggris.

Saat ini, Prof. Pao tinggal di Taichung (Taiwan). Dia menyampaikan bahwa
banyak peristiwa serupa tidak pernah sampai ke dunia luar, meski memiliki
nilai berita yang tinggi. Dia mengamati bahwa dewasa ini sejumlah media di
Tiongkok bagai tidak melihat kemungkinan lain daripada menurunkan laporan
atas
pemberontakan kaum tani serta berbagai demonstrasi dan pemogokan buruh,
mengingat
jumlah dan frekuensinya yang meningkat itu.

“Di Tiongkok pada saat ini berlangsung rata-rata 70.000 hingga 80.000
kegiatan massa setiap tahunnya”, kata Pao. “Ini berarti bahwa di segenap
penjuru
negeri, setiap hari terjadi tidak kurang dari 200 demonstrasi.” “Buruh dan
tani tersebut memiliki daftar keluhan yang panjang”, demikian Pao
berpendapat.
“Para buruh tidak puas dengan penghematan dan melimpahnya pengangguran,
pembayaran upah yang ditangguhkan, tidak diberikannya dana keperluan rumah,
pensiun yang diciutkan (atau ditiadakan sama sekali) serta sejumlah masalah
ekonomi lain yang dihadapi mereka.” “Di daerah pedesaan, masalah terpenting
bagi
kaum tani adalah bahwa mereka terus-menerus harus berpindah-pindah akibat
meruaknya perampasan tanah serta pengangguran”, imbuh Pao.

Keadaan buruh dan tani dewasa ini sangat buruk, demikian Pao menggugat,
yang dalam tahun ini sempat singgah di Tiongkok dua kali. “Bagi orang luar,
Tiongkok merupakan sebuah negeri yang sedang menempuh jalan menjadi negeri
maju.
Namun, hal itu adalah jauh dari kebenaran, mengingat adanya ketidak-puasan
di kalangan penduduk yang bekerja. Tiongkok dalam waktu dekat dapat
menghadapi
masalah besar”, demikian tandas Pao.

Meninggalkan Koperasi Pao mengurai melambungnya kemiskinan serta
ketidak-puasan di kalangan penduduk Tiongkok sebagai akibat serangkaian
langkah
reformasi yang ditempuh oleh kelompok Deng, yang terjadi seketika mereka
berhasil
mengambil alih kekuasaan pada 1979.

Pao menjelaskan: “Kebijakan pertama yang diambil adalah menghapuskan
koperasi. Dengan begitu kini bermunculan petani perorangan. Ini berlangsung,
ketika Deng melalui harga pasar menaikkan 20 prosen hingga 50 prosen, bila
petani
menjual lebih banyak dari kuota yang ditetapkan.” “Hingga 1984, yakni 5
tahun setelah pelaksanaan kebijakan tersebut, penghasilan kaum tani naik 15%
setahunnya”, tambah Pao. “Maka, para petani pun gembira. Bahkan mereka
mengelu-elu bak kebijakan yang baik, karena keadaan mereka kini menjadi
lebih baik
setelah pemasukan meninggi.“

Hasil positip kebijakan tersebut tampak diatur berlangsung pendek dan
tidak dapat dipertahankan. Pada tahun-tahun berikutnya, pemasukan pun
merosot
dari 5% hingga 1%. Dan dalam kurun 1997 hingga hari ini, ketika hasil
pertanian
secara keseluruhan tetap sama, harga pasar produk di sektor tersebut jatuh
hingga 30%. Disebabkan oleh pajak pendapatan yang membumbung, banyak petani
gulung tikar, dan terpaksa mencari napkah di kota. Menurut Pao, seketika
terdapat 100 juta petani berada di kota-kota, karena di desa-desa pertanian
tidak
lagi tersedia pe­ker­jaan. Pao menyatakan kebijakan Deng tersebut
sebagai sebuah perangkat yang ‘licik’. “Lebih gampang menerapkan reformasi
di
sektor pertanian, ketimbang di industri.“ Di sini, Pao menambahkan: “Dengan
membubarkan koperasi, Deng telah mematahkan sepenuhnya dasar ikatan antara
buruh
dan tani.“

Juga, “Jaminan pekerjaan tetap“ Deng mengayun lebih lanjut dengan apa
yang dinamakan reformasi tata ekonomi pada 1985 dan reformasi buruh pada
1986.
“Reformasi tata ekonomi merupakan perubahan yang amat penting di sektor
industri”, imbuh Pao. Pada masa lampau, perusahaan negara tidak memiliki
perhitungan untung-rugi. Bila terdapat keuntungan maka diberikan kepada
negara; bila
mengalami kerugian perusahaan memperoleh dana. Ini merupakan satu-satunya
cara
negara membuat perencanaan di bidang ekonomi. Ketika negara hendak
mengembangkan industri berat, dana dalam jumlah lebih besar pun harus
disalurkan,
meski tidak mendatangkan keuntungan. Tidak terdapat perhitungan untung-rugi.
Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu.”

Dengan memperkenalkan pemikiran untung-rugi, perusahaan yang memperoleh
keuntungan pun menikmati berbagai kemudahan. Di sini, Pao menyatakan lebih
jauh, bahwa para manajer yang gajinya telah melejit tinggi dan ditambah
dengan
berbagai bentuk keuntungan lainnya itu, juga memperoleh kekuasaan penuh
untuk
membeli atau mengkontrak perusahaan negara yang merugi. Alhasil:
berjuta-juta
buruh kehilangan ‘jaminan periuk’, atau pekerjaan tetap, yang hingga saat
itu
merupakan jaminan yang diberikan oleh negara sosialis itu. Di samping
pengangguran akibat bangkrut, para buruh tersebut dapat saja dipecat oleh
manajer
mereka dengan alasan sepele. Para manajer tidak lagi menerima buruh dengan
status tetap, namun atas dasar kontrak. Menurut Pao, hal itu membawa ke
langkah
reformasi buruh pada 1986.

Pelaksanaan reformasi buruh tersebut tidak berjalan mulus, akibat
munculnya tentangan keras oleh kaum buruh. Menghadapi kehilangan ‘jaminan
periuk’
mereka itu, buruh-buruh pada mulanya berhasil mencoba menghalau pemerintah
yang
hendak mengeterapkan langsung kebijakan termaksud. “Mengikuti proses
tersebut”, demikian Pao melanjutkan uraiannya, “sebenarnya negara berhasil
menghadapkan perlawanan buruh itu pada kesulitan, ketika harta milik negara
dijual
dengan harga banting kepada orang-orang terdekat”. “Terdapat pula banyak
contoh
lain di mana para manajer yang mengambil alih bagian perusahaan negara yang
menguntungkan, untuk kemudian memulai usaha baru sendiri. Dengan demikian,
perusahaan negara dipaksa gulung tikar dan para buruh pun pada gilirannya
dipecat”, demikian Pao berpendapat.

Menurut Pao, terhitung sejak pertengahan 1990-an terdapat sejumlah 10 juta
buruh yang kehilangan pekerjaan akibat kebijakan reformasi buruh oleh Deng
tersebut.

Sebuah kehidupan yang nyaman “Mereka yang dewasa ini berkunjung ke
Tiongkok dan menyaksikan banyak gedung pencakar langit, seketika akan
berpikir
bahwa di mana-mana di Tiongkok terdapat kekayaan”, kata Pao. “Di pasar
swalayan,
seseorang dapat menemukan segala-gala yang diperlukan dan orang pun dapat
berkesimpulan bahwa orang-orang di Tiongkok benar-benar memperoleh kehidupan
baik. Yaaa, tentu, beberapa orang telah menikmati hidup enak…sebuah
kehidupan
yang amat menyenangkan.”

Setelah 4 Juni 1989 [pemberontakan Tien-a-men], pemerintah Tiongkok,
menurut Pao, secara sadar mengambil keputusan untuk ‘membeli’ kaum
intelektual
serta pejabat tinggi pemerintah, dengan jalan memberi mereka ‘kehidupan
baik’.
“Tetapi”, imbuh Pao, “hal itu membuat jarak kaum kaya dengan kaum papa
semakin
menganga, sebuah keadaan yang di dalam laporan terakhir kantor berita resmi
Tiongkok, Xinhua, diakui sebagai ‘sangat memprihatinkan’.”

“Terdapat seperlima bagian dari penduduk Tiongkok yang paling makmur, kini
menguasai 50% seluruh pendapatan, sedangkan kaum yang paling melarat, yakni
seperlima penduduk, hanya berpendapatan 4,7% saja”, demikian dilaporkan oleh
Xinhua. “Perbedaan pendapatan yang telah melampaui batas kewajaran itu,
menunjukkan arus yang akan terus meningkat. Bila hal demikian berlangsung
untuk
jangka waktu lama, maka keadaan akan membawa ke berbagai macam kegoncangan
dalam masyarakat.”

Pao: “Namun, kehidupan kaum super kaya luar biasa baik dan pendapatan
mereka adalah sah.” “Kenyataan sebenarnya yang tidak tampak”, demikian
lanjut
Pao, “adalah pendapatan yang mereka peroleh lewat korupsi, khususnya di
lingkungan pemerintah serta perusahaan negara yang masih tersisa.” “Di
Tiongkok
terdapat lelucon yang berbunyi bahwa bila anda menjejer seluruh pejabat
pemerintah dan menempatkan mereka yang bernomor genap dalam sebuah baris
untuk
dibunuh, jumlah yang sama dari kalangan bersalah tersebut akan bebas
keluar”,
demikian disampaikan oleh Pao dengan nada kelakar. “Kebalikkannya, kaum
buruh
dengan penghasilan rata-rata setiap bulannya berjumlah 600 yuan renminbi
($74.00), yang terkadang dapat mencapai 1.000 yuan. Dengan itu, mereka tidak
memperoleh dana keperluan rumah serta biaya perawatan kesehatan”, demikian
Pao
berpendapat. Selain hidup di bawah keadaan ekonomi yang demikian berat, para
buruh
dan petani juga berhadapan dengan kekerasan oleh polisi, yang menurut Pao
sepuluh kali lipat lebih buruk dibanding Taiwan, di mana dia saat ini
hidup.

“Saya teringat akan kisah yang disampaikan kepada saya tentang dua gadis
Tionghoa yang sedang dalam perjalanan pulang. Seorang di antara mereka tidak
membawa surat sepeda yang digunakan. Polisi kemudian memutuskan untuk
menahannya. Ketika seseorang menemukannya, gadis tersebut dalam keadaan
meninggal,
dan memperoleh cerita bahwa dia telah diperkosa terlebih dahulu, sebelum
dibunuh. Penduduk kota berontak dan menuntut agar pihak yang terlibat
dihukum.
Bukan menangkap polisi yang bersalah, namun pihak berwajib menahan seseorang
sebagai pelaku, seorang fakir miskin, yang telah dibeli hidupnya dengan
memberi
keluarganya uang sejumlah 10.000 yuan. “

Menurut Pao, kehidupan di pedesaan pun tidak menjadi lebih baik, karena
para birokrat setempat menjadi jauh lebih buruk daripada tuan tanah zaman
terdahulu. Mereka berkata bahwa mereka kini memiliki kekuasaan yang lebih
besar
dan menjadi lebih korup.

“Sebagai contoh dapat kiranya dikemukakan kisah sebuah kelompok petani
yang mengorganisasi diri untuk mengedepankan meroketnya pajak yang dikenakan
kepada mereka. 12 orang dipilih dari kalangan mereka untuk mewakili serta
menanyakan kepada pihak manajer agar diizinkan melihat pembukuan untuk
mengetahui
penggunaan uang pajak tersebut. Bukannya mendengar kelompok tersebut, namun
tiga petani, tanpa ba, bu, dipukul hingga meninggal dunia.”

Banyak petani naik kereta api menuju Beijing untuk meluruskan persoalan
tersebut. Mereka berpikir bahwa pemerintah pusat akan berbuat sesuatu
terhadap
kekerasan polisi tersebut juga terhadap perampasan tanah. Namun demikian,
menurut Pao, banyak petani tidak berhasil sampai ke Beijing, karena dalam
perjalanan mereka diculik. Pao berpendapat bahwa Partai Komunis yang kini
berkuasa,
sepenuhnya menghentikan buruh dan tani menjadi anggota. Menurut dia, partai
lebih menaruh perhatian kepada kaum intelektual untuk dijadikan anggota
dengan memberi berbagai ekstra. Pao terkejut atas kenyataan hidup di mana
generasi
muda saat ini tidak mengenal tradisi revolusioner orang tua mereka.

Pekerjaan partai di kalangan massa merosot dalam bentuk pengorganisasian
bimbingan perjalanan ke sejumlah tempat-tempat bersejarah, yang pada masa
Mao
telah dikunjunginya, seperti Yenan. Ini dimaksudkan untuk mempertahankan
kepalsuan, bahwa partai benar-benar komunis, demikian pendapat Pao. “Dalam
kenyataan, banyak orang Tionghoa biasa menyatakan kepada saya selama singgah
di
negeri tersebut, bahwa Partai Komunis tersebut memiliki segala sesuatu,
terkecuali ke-komunisan”, demikian adanya menurut Pao. “Wajar bila anda
bertanya
kepada saya apakah Tiongkok hari ini telah kehilangan sama sekali seluruh
unsur
sosialistik-nya”, imbuhnya.

Kekuatan Besar Kapitalis? Atas pertanyaan apakah Tiongkok berada dalam
perjalanan menjadi negara adikuasa kapitalis berikut, Pao menjawab tegas T
I D
A K . Dia menyebut 6 alasan mengapa kapitalisme di Tiongkok tidak akan
berhasil:
01. Pertanian Tiongkok berada dalam keadaan terbelakang, tidak mengalami
modernisasi. Reformasi di bidang pertanian tidak berhasil. Pengairan telah
hilang. Hutan-hutan berada dalam keadaan buruk. Para petani tidak bersedia
menyerahkan tanah mereka. Bila semua ini diperhitungkan akan mengarah pada
usaha
yang gagal dalam menarik modal untuk ditanam di bidang pertanian.
02. Terdapat pasar dalam negeri yang kecil saja, karena gaji buruh dan
pendapatan kaum tani secara sadar dibuat rendah. Sembilan puluh prosen
pabrik-pabrik memiliki kapasitas berlebih.
03. Tiongkok menggunakan ekspor untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan
pendapatan. AS merupakan negeri pengimpor terbesar. AS meminjam uang
Tiongkok
untuk membeli produk Tiongkok.
04. Tiongkok tergantung pada impor teknologi serta suku cadang.
05. Tiongkok telah memberi banyak untuk dapat diterima di Organisasi
Perdagangan Dunia [WTO]. Sektor layanan jasa telah diserahkan. Industri
komputer,
kedokteran dan lain-lainnya telah dibuka. Pada 2010 bank asing di Tiongkok
akan memiliki kedudukan yang sama dengan bank nasional. Di antara 1.000 bank
teratas, Tiongkok hanya memiliki 16, dan 15 di antara itu telah dikendalikan
oleh bank asing. Bank of America dan Royal Bank of Scotland menanam
trilyun-an
dollar untuk mencaplok berbagai bank setempat.
06. Pada kurun 25 tahun terakhir, lingkungan hidup dan sumber bahan
mentah alam mengalami kerusakan berat. Sang negeri telah menelan berbagai
sumbernya sendiri. Air akan menjadi langka dan kini pun telah mengalami
kekurangan
minyak.

Walhasil, Pao menyimpulkan bahwa pertumbuhan kapitalisme di Tiongkok tidak
berlangsung secara penuh. “Bahwa Tiongkok akan menjadi negara adikuasa
adalah tidak lebih dari propaganda AS belaka. Dalam kenyataan, ekonomi
Tiongkok
mengalami ketegangan berlebih dan berada dalam sebuah titik yang setiap saat
dapat menjadi berantakan serta porak peranda.”

Dengan melimpahnya kalangan kaum pekerja, yang sadar akan pengkhianatan
klik Deng, Tiongkok mengalami suatu kurun waktu yang menegangkan, menurut
Pao.
Dia mengatakan bahwa sungguh merupakan dorongan ketika terdapat berbagai
usaha sementara orang di Tiongkok untuk mempelajari keadaan serta berbuat
sesuatu
menghadapi keadaan hari ini.

Pao menyampaikan harapan bahwa pada suatu saat berbagai aksi massa di
dalam negeri akan menemukan bentuknya secara terorganisir, sehingga akan
lebih
banyak mencapai keberhasilan, seperti pemberontakan di Tai-ching itu.

Mengakhiri cerita tentang Ta-ching….
Untuk merayakan kemenangan mereka, buruh-buruh telah membuat patung
sebagai tugu peringatan terhadap tiga buruh yang telah meninggal dunia pada
saat
bom meledak serta empat buruh lainnya yang ditangkap untuk kemudian
dieksekusi
karena keterlibatan mereka pada usaha meledakkan bom tersebut. Para buruh
yang gugur ini dapat saja dianggap pelaku kejahatan di mata pemerintah
Tiongkok.
Namun, bagi buruh-buruh Ta-ching mereka adalah martir yang meninggal ketika
berlawan.

Sumber: Bulatlat [2005].
Diindonesiakan oleh redaksi datainfocom berdasar Manifest (1 december 2005:
9; 15 december 2005: 12), hasil terjemahan J. Bernaven.