You are here: Home » Media » Media Massa di Internet

Media Massa di Internet

Ini adalah tulisan yang ditulis oleh kawanku , mas Priyambodo RH (bob), seorang wartawan senior di LKBN Antara (www.antara.co.id). Beliau adalah salah seorang pelopor cyberjournalism di Indonesia. Dari mas Bob , aku banyak berdiskusi dan belajar tentang media massa dan komunikasi massa. Kami sering berdiskusi tentang hal hal yang berkaitan tentang pengembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan teknologi Informasi.

Teknologi mengolah informasi menjadi suatu yang menarik untuk dipelajari dan diamalkan. Dalam tulisan tulisan berikut di blog ini , akan aku sampaikan beberapa pemikiran tentang teknologi pengolahan dan penyajian informasi.

-bsd-

————————————————————-

Di Internet,

Media Massa Nasional (Harusnya) Kian Cepat,

Akurat, Lengkap dan Mendunia

 

Oleh Priyambodo RH

(Wartawan LKBN ANTARA, dan Pengajar Cyberjournalism

di Lembaga Pers Dr. Soetomo/LPDS)

 

 

“Wartawan di tengah kemajuan teknologi informasi agaknya tidak lagi menghadapi masalah bagaimana mengirimkan berita secepat, seakurat dan selengkapnya. Masalah terbesar mereka adalah bagaimana mempertajam kreativitasnya dengan memanfaatkan hasil teknologi itu sendiri.”

 

 

Pengantar

 

Dalam sejumlah pameran teknologi terkini di negeri ini, sejumlah pramuniaga seringkali menawarkan produk-produk canggih, dan salah satunya adalah lemari pendingin (kulkas) yang di pintunya terpasang layar sentuh (touch screen) terhubung ke jejaring komputer sejagat alias Internet.

 

Bagi sejumlah orang, terutama yang maniak berselancar di dunia maya, keberadaan kulkas ber-Internet itu bakal menarik perhatiannya. Namun, bagi sebagian orang lainnya tentu saja bakal ada yang bertanya-tanya: “Apa enaknya ber-Internet di pintu kulkas?”

 

Namun, semakin banyak orang saat ini lebih menikmati fungsi komputer pribadi (personal computer/PC)  yang terhubung ke Internet bukan sekadar mesin ketik canggih lagi, karena PC kian hari fungsinya semakin menyatu mulai menjadi bioskop, televisi, radio, wahana bermain sampai dengan buku harian pribadi sekaligus mesin pencari (search engine) informasi tercepat, terakurat dan terlengkap secara pribadi pula.

 

Padahal, tak sedikit orang yang tentunya bakal merasakan kenyamanan kulkas ber-Internet manakala fungsi kecanggihannya bisa langsung mendeteksi apa saja isi kulkas –misalnya, es krim, susu, telur, buah-buah dan sayur mayur– yang sudah habis, serta langsung terhubung ke toko serba ada untuk memesan, membayar secara online sampai mengantarkan kebutuhan apa saja, sehingga lemari pendingin tetap penuh sesuai daftar rutin keinginan pemiliknya.

 

Dengan kata lain, kebanyakan orang masih lebih mementingkan unsur fungsi dari satu benda untuk memenuhi kebutuhannya –apalagi, syukur-syukur harganya murah– dan mereka cenderung menuntut hasil temuan teknologi mempermudah urusannya.

 

Berangkat dari kecenderungan semacam itulah, maka fungsi media massa yang memanfaatkan terknologi Internet (cybermedia) tak akan pernah terabaikan selama mereka senantiasa mampu menyajikan informasi yang cepat, akurat, lengkap sesuai keinginan publiknya, dan syukur-syukur gratis!

 

 

Multimedia Massa

 

“Sekarang ini, Internet berada kira-kira pada tingkat perkembangan telepon di tahun 1890-an. Sambungan ke Internet belum untuk semua orang. Menjalankan Internet tidaklah mudah. Dan, dewasa ini hanya sejumlah wartawan tertentu saja yang memanfaatkannya,” catat Randy Reddick dan Elliot King dalam buku mereka yang berjudul Online-Journalist, using Internet and Other Electronic Resources.

 

Dalam buku terbitan Harcourt Brace & Company pada 1995 tersebut, mereka juga menorehkan pendapatnya: “Walaupun demikian, dalam bentuknya yang sekarang pun, Internet sangat berguna karena wartawan dapat melaksanakan tugas utamanya mengumpulkan dan menyampaikan informasi pada khalayak secara lebih mendalam dan efisien.”

 

Pendapat kedua penulis itu pun dalam kurun waktu satu dasawarsa -saat ini- sudah harus banyak dikoreksi, terutama menyangkut perkembangan jumlah sambungan ke Internet untuk semua orang, dan tentu saja bagaimana para wartawan memanfaatkannya. Hal itu semua tentunya tak bisa dilepaskan dari kerja keras para pihak, seperti kalangan penyempurna teknologi, pebisnis yang banyak mencium peluang, dan juga khalayak –terutama pekerja media massa/wartawan– yang tidak pernah puas memanfaatkan fungsi dari hasil teknologi informasi.

 

Dalam perjalanannya selama ini, jurnalisme ber-Internet atau yang akrab disebut “cyberjournalism” ataupun “online journalism” sudah melampaui gelombang ketiga dan memasuki gelombang keempat. Hal ini lebih banyak dilihat dari kenyataan yang terjadi di negara-negara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS).

 

Gelombang Pertama jurnalisme ber-Internet mulai nampak pada tahun 1982 – 1992 atau tahap sepuluh tahun awal perjuangan. Periode tersebut menjadi penentu gejala Internet sebagai jejaring komputer global yang memungkinkan semua orang memiliki “mainan baru” dalam dunia informasi. Saat itulah banyak pakar menyebut sebagai babak: “Selamat Datang Teknologi Informasi Multimedia”.

 

Pembabakan jurnalisme ber-Internet pada kenyataannya tak lepas dari kehadiran perusahaan penyedia jasa jejaring Internet (Internet Service Provider/ISP) yang di AS dipelopori oleh “American On Line” (AOL) dan “Prodigy”. Hanya saja, media massa memanfaatkan Internet baru sebatas sebagai pelengkap administrasi untuk saling berkirim kabar per surat elektronik (e-mail) dan kecepatan akses maksimalnya sekirar 9,6 Kilo Bytes per second (KBps).

 

Gelombang Kedua jurnalisme ber-Internet berlangsung pada tahun 1992 – 2001 yang ditandai dengan semakin komplitnya ISP di AS dan UE memberikan fasilitas kecepatan akses data multimedia dibarengi dengan kemampuan prosesor PC melakukan sejumlah pekerjaan secara bersamaan (multi tasking), serta keandalan pusat jejaring komputer (server) mengatur alur komunikasi. Saat itu kecepatan akses data multimedia menggunakan modem sudah mengalami kemajuan dari 14,4 KBps menjadi 36,6 KBps dan terus melaju hingga 56,6 KBps.

 

Memasuki tahap sepuluh tahun kedua perkembangan jurnalisme ber-Internet diikuti dengan kecenderungan harga PC dan fasilitas yang disediakan ISP semakin beragam menjadi murah harganya. Tiba-tiba saja, setiap masyarakat dunia mengenal serangkaian istilah yang dimulai dengan huruf “e” dengan makna “electronic”. Ada istilah “e-commerce” (perdagangan ber-Internet), “e-trust” (pasar modal ber-Internet), dan media massa ramai-ramai menyajikan “e-news” alias berita melalui Internet, bahkan “e-government” yang berupaya mengalihkan sistem administrasi rutin kepemerintahan juga dilayani melalui Internet.

 

Surat kabar dan majalah, siaran radio dan televisi, serta tayangan film maupun berbagai pusat data dapat dengan mudah diakses melalui Internet. Pada masa ini pula “e-commerce” dibidang multimedia massa melalui “portal” (situs informasi) mengalami masa pasang, sekalipun pada akhirnya banyak pula yang berguguran.

 

Jatuh bangunnya “e-commerce” melalui produk dagang yang biasa disebut dotcom dapat terjadi lantaran pengelola bisnis sering kali lupa bahwa hubungan kemanusiaan dalam dunia dagang jauh lebih penting dibanding hanya menempatkan calon pembeli dan pelanggan setia layaknya angka statistik semata. Selain itu, para pengelola situs Internet seringkali terlalu bersemangat membuka “portal” –istilah ini muncul dari kata porta yang dalam bahasa latin yang semakna dengan pintu– yang dapat terbuka lebar dan penuh tawaran informasi, serta memiliki tatanan sangat menarik.

 

Hanya sayangnya, pengelola portal sering lupa memperbarui (up dating) informasi yang mereka sajikan, dan malas memberikan tanggapan terhadap e-mail yang masuk. Selain itu, mereka keliru menerjemahkan bahwa portal hanyalah sekadar pintu, padahal makna “e-commerce” menempatkan calon pembeli dan pelanggan setia merasa dihargai manakala e-mail-nya mendapat tanggapan positif.

 

Apalagi, banyak pengelola dotcom dalam periode 1998-2003 terbuai dengan betapa cepatnya memperoleh uang dari hasil menjual informasi dan mengelola iklan melalui laman (situs Internet). Bahkan, mereka tergiur untuk mendaftarkan bisnis dotcom-nya ke pasar modal untuk meraup keuntungan lebih besar dari investasi publik. Akhirnya, banyak di antara mereka berguguran alias mengalami kebangkutan.

 

Mereka agaknya tergoda untuk memenuhi “keinginan” berekspansi bisnis dan lupa memilah “kebutuhan” mendasar untuk mendukung eksistensi bisnisnya. Oleh karena itu, pebisnis dotcom yang mampu bertahan biasanya bukan semata-mata didasari kemampuannya berekspansi merebut pasar dan meraup untung secara cepat, tetapi mereka mampu berbenah memperkuat sistem, antara lain mengembangkan fungsi divisi produk sekaligus layanan teknologinya. Dotcom yang mampu bertahan hidup dan kemudian meraih peluang lebih besar biasanya memiliki bidang usaha jasa layanan dan pengembangan teknologi informasi.

 

Gelombang Ketiga jurnalisme ber-Internet mulai bereaksi semakin cepat pada tahun 2002 yang ditandai dengan maraknya teknologi bersimbolkan huruf “m” yang bermakna “mobile Internet”. Sistem akses Internet menjadi nirkabel dan aplikasi komputer dapat menyatu di telepon selular genggam (ponsel alias HandPhone/HP). Teknologi aplikasi nirkabel (Wireless Application Protocol/WAP) dan paket layanan radio (General Packet Radio Service/GPRS) sangat memungkinkan pengguna ponsel dapat pula mengakses Internet untuk mengirim dan menerima e-mail, pesan berfoto, bersuara dan gambar bergerak. Selain itu, peselancar di dunia maya dapat mengakses data dengan kecepatan mencapai 4 Mega Bytes per second (MBps) dengan memanfaatkan jaringan televisi kabel.

 

Belajar dari keruntuhan bisnis dotcom, maka industri  media massa mengisi gelombang ketiga mengarah ke perdagangan bergerak secara nirkabel atau “m-business” (mobile business). Media massa saling berlomba menyajikan informasi terkini memanfaatkan ponsel ataupun PC dan notebook computer (laptop) yang dilengkapi teknologi gelombang akses lokal (Wave Lokal Area Network/W-LAN) atau sering disebut pula ”Wireless Fidelity (WiFi). Dalam babak itulah bisnis penyebaran informasi mulai dihitung dengan satuan waktu akses berbanding lurus dengan kapasitas data yang diambil berdasarkan satuan kilobytes (kb).

 

Dalam hal ini, media massa yang menerapkan –apalagi mengandalkan– konsep cyberjournalism harus menyadari bahwa dirinya tak dapat bermain sendirian. Keberadaanya berkaitan langsung dengan dukungan ISP dan juga berhadapan dengan budaya publik. Misalnya, media massa tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan menyajikan informasi terkini hanya dari wartawannya sendiri, sehingga mereka tetap memerlukan kantor berita atau pun membuat jejaring pemberitaan sendiri yang tentunya memerlukan modal tidak sedikit. Media massa pun harus mampu membidik pasar yang sempit, namun konsumennya memiliki gaya hidup bekerja di mana pun –terutama tempat santai di luar kantor, namun menjalankan fungsi kantor berinternet nirkabel di kafe– yang rela mengucurkan dana besar untuk memperoleh informasi terkini, terakurat dan terlengkap.

 

Melajunya gelombang ketiga jurnalisme ber-Internet ditandai pula dengan kecenderungan konvergensi (convergence) media massa menjadi multimedia massa. Tiba-tiba saja proses kerjasama, bahkan  penggabungan bisnis (merger) di antara penyedia jasa informasi dengan ISP dan perusahaan piranti keras sekaligus piranti lunak komputer saling menyatu. Gejala tersebut ditandai dengan bergabungnya perusahaan komputer Hewlett-Packard dengan Compaq, dan perusahaan ponsel bermerek dagang Ericsson bergabung dengan divisi multimedia audio visual Sony, menjadikan merk dagang Sony Ericsson, serta bergabungnya IBM Amerika Serikat dengan Lenovo China, melahirkan merk Thinkpad &Thinkcenter Lenovo, di dunia produk teknologi informasi. Piranti lunak ponsel cerdas (smartphone) pun memanfaatkan piranti lunak dari Symbian maupun Microsoft dengan pola konvergensi.

 

Konvergensi juga membawa produk teknologi informasi menjadi ”serba bisa” dan ”serba bergerak nirkabel”. Merebaknya Personal Digital Asisstant (PDA) yang berfungsi sekaligus sebagai telepon seluler (PDA phone) atau dilengkapi pula fungsi penjejak posisi bersatelit (Global Positioning System/GPS) membuat kalangan profesional, termasuk wartawan, semakin dimanjakan dalam berkomunikasi dalam menuntaskan pekerjaannya.

 

Gelombang Keempat jurnalisme ber-Internet, sekalipun ada yang menganggap masih masa transisi sehingga sejumlah pakar menyebutnya sebagai Gelombang Ketiga Setengah, terasa lajunya pada 2006. Saat ini, lagi-lagi, dunia kewartawanan semakin diarahkan untuk memanfaatkan Internet lantaran hasil temuan teknologi informasi yang maju pesat, antara lain ditandai dengan berkembangnya cakupan sebaran wilayah WiFi menjadi WiMax yang lebih luas, dan sejumlah aplikasi kerja sampai dengan database dapat tersimpan secara online sekaligus offline.

 

Manakala pemakai PC dan peselancar Internet  lebih dari satu dasawarsa terbiasa mengerjakan sejumlah pekerjaan kantoran –menulis artikel, menyiapkan paparan (presentasi), menyusun album foto maupun audio-video– secara offline di PC-nya memanfaatkan aplikasi pengolah tertentu, maka mereka semua mulai dapat mengerjakan sekaligus menyimpan dokumennya di ”lemari maya” secara online.

 

Hebatnya lagi, pengguna komputer dan peselancar Internet yang selama ini harus menginstal aplikasi pengolah kata, penyusun grafik dan perancang paparan di PC/laptop-nya kini dimungkinkan mendapatkan langsung aplikasi itu melalui Internet. Dengan kata lain, mereka tidak perlu mengintal aplikasi khusus lagi –yang harga lisensinya terbilang mahal–lantaran dapat langsung mengambilnya di situs tertentu, dan memanfaatkannya secara offline, kemudian menyimpan dokumen itu ke ”lemari maya” saat koneksi online diaktifkan (online) kembali. Walau masih dalam taraf pengembangan, aplikasi semacam itu –semisal AjaxWrite di http://www.ajaxwrite.com — hingga pertengahan 2006 dapat berfungsi relatif memadai. Dalam hal ini, wartawan semakin dimanjakan untuk menjalankan profesinya, dan membuka peluang semua orang –tentunya dengan etika tertentu– dimungkinkan menjadi wartawan online secara kelembagaan maupun pribadi/mandiri.

 

Media massa yang ingin menerapkan konsep cyberjournalism –mengandalkan kinerja wartawan/editornya dapat mencari-menyunting-mendistribusikan berita teks/foto/audio-video dari mana pun, tanpa harus di kantor, tetapi memiliki laman pendukung kinerja jurnalistiknya– langsung berhadapan dengan dua pilihan besar. Pertama, apakah satu lembaga media massa ingin diakses banyak orang? Kedua, apakah media massa ingin lebih banyak diakses oleh para pemegang kebijakan secara mendunia?

 

Saat inilah jurnalisme ber-Internet tampaknya semakin mempertegas khalayaknya menjadi: “Kami menyatu untuk selalu memenuhi apa yang kalian semua para pelanggan butuhkan.”

Multimedia Massa di Indonesia

 

Momentum dan media massa kini semakin erat kaitannya. Media massa yang kurang pandai memanfaatkan momentum –perhelatan Piala Dunia 2006, info tsunami, flu burung, peringatan 17 Agustus, dan peringatan hari raya agama; misalnya– kian terbukti sulit meraup keuntungan secara bisnis, serta secara idealis dapat dinilai kurang memperhatikan kepentingan publiknya. Media massa diharapkan bukan lagi sekadar menyiarkan fakta, tetapi publik  menuntut disajikan lebih cepat –dan kalau mungkin menjadi seketika (realtime)– dan lebih akurat, serta lebih lengkap.

Kemampuan media massa dalam memanfaatkan momentum tersebut semakin meningkat manakala memanfaatkan produk teknologi informasi. Satu lembaga media massa semakin dikenal publiknya manakala secara cekatan menyajikan berita terkini, terakurat dan terlengkap sekaligus memberikan peran kepada publiknya untuk terlibat dalam permasalahan yang berkembang. Publik memberikan apresiasi tersendiri kepada media yang menyajikan informasi secara interaktif. Publik pun semakin merasa pentingnya media massa manakala mereka diberi wahana untuk ikut menyumbangkan sesuatu –mulai berbentuk natura hingga sekadar ikut prihatin– kepada korban bencana alam.

Kini unsur 5W+H (Who, What, When, Where, Why & How)  sudah menjadi milik publik, dan media massa berada di posisi “dituntut harus” memberikan aktualitas yang akurat, serta selengkap mungkin. Publik semakin berkepentingan mendapatkan ”sesuatu” –yang kemudian dapat dimaknai sebagai berita– melalui media massa. Bahkan, publik semakin sering terlihat ingin mendominasi, menjadi penentu, dan mereka tak rela hanya diposisikan sebagai penerima berita.

Dalam posisi mengejar kecepatan, keakuratan dan kelengkapan berita sesuai kepentingan publiknya, maka media massa kian memerlukan produk teknologi informasi dan konsep cyberjournalism menjadi alternatifnya. Apalagi, media massa semakin merasakan berita melalui Internet daya jelajahnya mendunia secara serentak. Sekalipun, media massa pun harus segera menerima kenyataan bahwa Internet pula yang membuka informasi haruslah menjadi public domain. Hal ini juga menjadi tuntutan publik di Indonesia, dan media massa harus berupaya keras untuk memenuhinya.

Oleh karena itu, setiap media massa nasional senantiasa berupaya memiliki akses dan membuka situs di Internet. Sekalipun, masih cukup banyak di antara mereka tidak dengan mudah mendapatkan dengan sejumlah alasan, mulai dari hal teknis sampai dengan menyangkut kebijakan manajemen bisnis.

Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII: http://www.apjii.or.id) mencatat data sebagai berikut:

 

 

 

 

     Tahun:             Domain Baru:           Total Domain:

1998                     1.479                       1.479

1999                     2.126                       3.605

2000                     4.109                       7.714

2001                     3.433                     11.147

2002                     3.146                     14.293

2003                     3.628                     17.921

2004                     3.841                     21.762

 

Pihak APJII  mengemukakan bahwa pada tahun 2001 jumlah permintaan domain secara global, termasuk di Indonesia, menurun drastis dan diperkirakan alasannya lantaran runtuhnya bisnis dotcom. Seperti juga kecenderungan –atau bisa dikatakan ikut-ikutan—dengan kecenderungan di sejumlah negara maju, para pebisnis dotcom di Indonesia kala itu banyak melibatkan pekerja pers untuk mengelola portal pemberitaan dengan target meraup keuntungan dari layanan berita, iklan, dan desain web secara online. Bahkan, mereka mendapatkan modal asing.

 

Keruntuhan dotcom yang menimpa sebagian besar –bisa pula dikatakan hanya satu dua lembaga saja yang bertahan hidup— bisnis mereka agaknya membuat pengelola media massa nasional ikut berpikir ulang untuk tidak mempertaruhkan modal mereka ke bisnis sejenis. Media massa nasional pun terlihat memilih garis batas yang aman, yakni mempertahankan atau membuka laman (situs Internet) sekadar untuk melengkapi bisnis informasinya sebagai alternatif berpromosi.

 

Sementara itu, pebisnis dotcom yang bertahan hidup agaknya lebih banyak didukung oleh kinerja unit kerja mereka yang lain, misalnya bisnis pengembangan aplikasi komputer, desain web dan konsultasi membuat laman bagi perusahaan –termasuk media massa—yang memerlukannya. Selain itu, mereka juga mengembangkan sejumlah alternatif bekerjasama intensif dengan pihak pengelola jaringan ponsel untuk memberikan layanan informasi, wallpaper ponsel, nada dering sampai dengan permainan yang dapat diambil-pindah (download) langsung dari ponsel. Bisnis ini layaknya toko ponsel yang ternyata lebih banyak meraup keuntungan dari menjual pernak-pernik (asesoris).

 

Namun demikian, cyberjournalism pun tetap bergulir di manajemen media massa nasional. Kian banyak wartawan dan redaktur yang sulit melepaskan pekerjaanya dengan Internet. Bahkan, semakin banyak pula media massa yang memutuskan sistem kerjanya memanfaatkan Internet, sehingga wartawan dan redaktur dapat mengirimkan dan mendistribusikan berita (teks/foto/audio-video streaming) di mana pun mereka berada.

 

< ![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Contoh halaman kerja media massa berkonsep cyberjournalism.

 

Pihak penyedia jasa jaringan ponsel pun ikut meramaikan cyberjournalism di media massa nasional, karena mereka menyediakan jasa membuat layanan bernilai tambah (Value Added Services/VAS) yang memungkinkan wartawan mengirimkan berita dari lokasi kejadian berformat pesan singkat (Short Message Service/SMS). Mereka pun memanjakan wartawan untuk mendapatkan akses pengiriman berita melalui sistem pengiriman online melalui ponsel berteknologi data paket (General Packet Radio Service/GPRS) yang disempurnakan lagi melalui Enhanced Data Rates for GSM Evolution (EDGE). Inilah salah satu bukti konvergensi merambah dalam manajemen media massa.

 

Kehadiran teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) pada 2004 juga semakin membuka peluang bisnis berbasis Internet nirkabel semakin melaju. Wartawan pun ikut menikmatinya, bahkan proses manajemen pemberitaan media massa yang menerapkan cyberjournalism semakin memantapkan kinerjanya. Teknologi nirkabel Evolution-Data Optimized (EvDO) pun pada 2006 bergulir melanjutkan CDMA, sehingga memungkinkan proses pengiriman data multimedia –termasuk bagi wartawan pemanfaat Internet—menjadi semakin cepat. Sejumlah wartawan pun menikmati babak awal Generasi Ketiga (Third Generation/ 3G) alias triji dalam dunia telekomunikasi  nasional.

 

Kehadiran serangkaian produk teknologi informasi pun terlihat menjadi tantangan nyata bagi media massa yang memanfaatkan konsep cyberjournalism. Oleh karena, Internet ”seharusnya” membuat produk pemberitaan selain menjadi lebih cepat didistribukan secara global, harus pula semakin akurat dan lengkap. Unsur akurasi dan kelengkapan ”seharusnya” pula dapat memanfaatkan fasilitas mesin pencari (search engine) dan ensiklopedia online di Internet. Namun, tak sedikit media massa nasional yang justru masih berkutat dengan permasalahan akurasi dan kelengkapan dalam pemberitaannya. Dalam hal ini, kreativitas wartawan dan fungsi pengawasan mandiri di media massa nasional sangat diperlukan.

 

Istilah information as public domain dalam penyebaran informasi di Internet, misalnya, di satu sisi menjadi salah satu tantangan bagi media massa untuk tetap menerapkan etika jurnalistiknya dalam pengutipan nara sumber pemberitaan. Di sisi lain, media massa nasional yang memiliki payung hukum Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 agaknya masih perlu menelaah aturan main penyebaran informasi di Internet. Salah satu contoh adalah dalam komunitas peselancar di Internet ada forum diskusi surat elektronik bersama (mailing list atau milist) yang seringkali menyebarkan informasi tertentu yang sifatnya mulai dari hal-hal humor hingga sangat serius. Jika saja ada wartawan yang menjadi anggota mailing list tertentu dan ia mengutip informasi dalam pemberitaannya, maka ia pun wajib melakukan proses check & recheck guna memastikan keakuratannya. Public domain dalam penyebaran informasi di Internet yang bukan dikelola lembaga resmi sejauh ini agaknya lebih banyak yang ibarat pamflet atau reklame di pepohonan di pinggir jalan raya, sehingga keakuratannya perlu diuji lagi dalam kaidah jurnalistik, apalagi jika ingin dibawa ke ranah hukum positif.

 

Tantangan lainnya, belum semua dari sekira 600 media massa nasional yang secara utuh dapat menerapkan kinerja cyberjournalism lantaran alasan teknis dan faktor finansial hingga kebijakan manajemen. Masih banyak media massa di luar ibukota provinsi di negeri ini yang kesulitan mendapatkan akses Internet secara memadai. Kalau pun ada, tidak sedikit dari pemegang kebijakan di media massa yang berani memutuskan menerapkan konsep cyberjournalism lantaran khawatir dengan nilai investasi yang mahal. Padahal, bagi pengelola media massa tantangan semacam itu dapat dijawab, antara lain dengan melibatkan kalangan perguruan tinggi yang menyimpan banyak sumber daya manusia penuh gagasan.

 

Ibarat seseorang yang ingin mendapatkan buah jambu segar, maka ia akan lebih baik tidak membelinya di supermarket atau ke tukang buah di pinggir jalan. Ia akan lebih puas bila dapat langsung memilih dan memetik dari pohon jambu di lahan subur. Begitu pula dengan media massa yang ingin menerapkan konsep cyberjournalism relatif mudah menerapkannya dengan melibatkan kalangan perguruan tinggi yang memiliki kajian ilmu komunikasi untuk pengembangan isi pesan (content), dan ilmu teknik komputer/informatika guna mengembangkan modul teknologi informasinya. Mekanisme semacam ini sudah sejak lama diterapkan oleh media massa di negara maju, karena mereka menemui kenyataan bahwa melibatkan kalangan kampus banyak memperoleh gagasan luar biasa yang bila diterapkan ongkos investasinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan mengajak bicara para vendor teknologi informasi.

 

Tak berbeda dengan lembaga bisnis lainnya, media massa yang terlambat ”bermain” di Internet banyak yang bakal menghadapi tantangan dari kalangan cyberquater, yakni seseorang yang pekerjaannya mendaftarkan nama domain di Internet lalu menjualnya kepada pihak yang membutuhkan. Bukan tidak mungkin jika satu lembaga media massa yang saat mendaftarkan membuka laman nama medianya, ternyata domain name di Internet sudah dimiliki pihak lain, dan media bersangkutan kalau pun menginginkan nama domain itu harus membayar –atau melakukan tawar menawar bernilai tinggi– ke cyberquater.

 

 

 

 

Semua Bisa Jadi Wartawan

Belakangan ini melalui Internet semua orang bisa menjadi wartawan, atau (katakanlah) bekerja layaknya wartawan, yakni melalui blog atau menjadi blogger. Walau dimulai sejak 1994 oleh Brad Fitzpatrick, blog atau weblog sejak 2004 semakin diminati banyak peselancar Internet yang memfungsikannya berkonsep cyberjounalism.

 

Wikipedia, ensiklopedia bebas layan di Internet, mencatat bahwa Weblog, Web log atau singkatnya Blog adalah  aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan (posting) pada sebuah halaman situs Internet (webpag) umum. Posting-posting tersebut seringkali dimuat dalam urutan aktualitas posting secara terbalik, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.

Media Blog pertama kali di populerkan oleh Blogger.com (http://www.blogger.com) yang dimiliki oleh PyraLab yang akhirnya diakuisi oleh Google.Com (http://www.google.com) pada akhir tahun 2002. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat terpakai secara bebas (Open Source), sehingga pengembangannya mudah dilakukan oleh para blogger.

Wikipedia juga mencatat, blog sejauh ini mempunyai fungsi yang sangat beragam, dari sebuah catatan harian sampai dengan media publikasi dalam sebuah kampanye politik, program-program media dan korporasi. Sebagian blog dikelola oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis. Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, yang dapat memperkenankan mereka untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan. Namun demikian, ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif. Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar mengerupsi beberapa subyek atau sangat kontroversi dalam blogoshpere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

Sejak 2004 blog semakin fenomenal, karena fungsinya kian kental dengan konsep cyberjournalism. Semakin banyak pengelola blog menerapkan gaya penulisan wartawan, sarat fakta dan berkaidah 5W+H. Mereka pun menyajikan sumber-sumber berita yang akurat dengan menyebutkan asal-usul informasi yang mereka kutip kembali. Bahkan, semakin banyak politisi, sastrawan, dan kalangan profesional memanfaatkan blog untuk menuangkan gagasan. Tidak sedikit pula wartawan yang memiliki blog, sehingga mereka dapat menyuarakan opininya lantaran secara profesional di lembaga media massa mereka tidak dimungkinkan beropini langsung. Oleh karena itu pula, kian banyak blog yang dimiliki kalangan profesional yang tinggi kredibilitasnya lantaran menyajikan informasi secara aktual, akurat dan lengkap, sehingga menjadi referensi umum, termasuk bagi wartawan dalam membuat berita.

Sejumlah media massa online pun memanfaatkan blog menjadi wahana berbagi informasi. BBC online (http://news.bbc.co.uk) pun memanfaatkan blog untuk publiknya dengan memanfaatkan momentum Piala Dunia 2006, yang ternyata menggugah banyak penggila sepakbola dunia berperanserta. Hal itu dilakukan pula oleh pebisnis dotcom dan penyedia jasa jaringan ponsel maupun ISP untuk menarik minat pelanggannya.

Electronic Frontier Foundation (EFF: http://www.eff.org), lembaga pemerhati kebebasan informasi digital yang didirikan pada 1990 dan beralamat di 454 Shotwell Street – San Francisco CA 94110-1914 USA, termasuk aktif mempromosikan blog sebagai media massa publik. Lembaga tersebut juga membuka konsultasi kepada publik yang berminat membuat blog berkonsep cyberjournalism. Bahkan, EFF menegaskan bahwa blogger atau pengelola weblog, dalam kondisi tertentu, dapat dipersamakan dengan wartawan!

EFF menekankan bahwa “pertanyaan apakah para pengelola blog termasuk wartawan?” sebaiknya jangan diperdebatkan terlalu jauh, karena hal yang jauh lebih penting hakikatnya adalah sejauh mana keterbukaan informasi –terutama informasi digital– dapat diakses publik secara luas. Dalam hal ini, EFF pun menekankan faktor tanggung jawab, aktualitas, keakuratan dan kelengkapan dalam menyebarkan informasi menjadi hal penting bagi pengelola blog berkonsep cyberjournalism.

 

Konsep kewartawanan –termasuk di Indonesia– agaknya semakin menemukan bentuknya di Internet, antara lain ditandai pula dengan seiring gencarnya  pemerintah pusat dan sejumlah provinsi menerapkan administrasi kepemerintahan secara digital memanfaatkan Internet (electronic government atau e-gov) yang menggunakan pula mekanisme cyberjournalism. Sejumlah laman resmi pemerintah provinsi dimanfaatkan untuk menjalin interaksi dengan publiknya. Bahkan, mereka membuka akses pengiriman informasi dari publiknya guna dipublikasikan –tentunya setelah melalui proses penyuntingan layaknya mekanisme di redaksi media massa—dalam situs Internet.

Dari serangkaian perkembangan pemanfaatan konsep cyberjournalism di kalangan peselancar Internet hingga laman resmi pemerintah itulah, maka media massa nasional agaknya tidak boleh ketinggalan mengembangkan manajemen pemberitaan menjadi lebih cepat, akurat, lengkap dan segera diakses masyarakat dunia. Jika tidak, maka fungsi media massa melalui Internet terancam bakal diambil alih publiknya!