You are here: Home » Ekonomi » Singkong

Singkong

Kira kira, tahun 1998 , pada saat reformasi terjadi dan kondisi ekonomi Indonesia sedang merosot ,saya diajak salah satu kawan , senior di ORARI , pak Agus Krisnadi (YB1CS), untuk bergabung mencoba berusaha di bidang pertanian. Pada saat itu , kami sedang senang senangnya mengembangkan banyak hal di bidang per Internet an dengan CNRG (Computer Network Research Group dan AI3 (Asian Internet Interconnection Invitiatives) dan tawaran pak Agus tersebut dengan halus saya(kami) tolak bukan kami tidak concern tapi karena pada saat itu kami baru memulai mengembangkan “network”.

Silaturrahmi dengan pak Agus tetap kami lakukan , salah satunya , Pak Agus bercerita bagaimana beliau mengembangkan produk produk Agro Industri Singkong. Ini menjadi menarik karena pak Agus memulai dengan peralatan yang sangat sederhana , yaitu dapur di kantor beliau dan para pembantu beliau dilibatkan untuk pembuatan singkong yang dibuat macam french fries tapi terbuat dari singkong. Hingga saat ini (2005) pak Agus telah mengekspor singkong fries ini ke Jepang sejumlah 200 ton per bulan. Angka itu bukan suatu angka yang luar biasa. Pada awalnya pak Agus hanya memulai dari 1 ton per bulan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama berteman dengan pak Agus.

Dibawah ini adalah artikel yang pernah saya tulis untuk majalah Forum Rektor tahun 1999.

————————————————————————-
Pertanian adalah proses atau kegiatan penggarapan tanah untuk tanaman budi daya , mulai dari penanaman sampai pemeliharaan, pemungutan hasil dan pengolahan pasca panen. Kegiatan pertanian sudah berlangsung kira kira 10.000 tahun yang lalu, yakni sejak manusia purba berhasil menanam tanaman dan memelihara hewan di sekitar tempat tinggalnya. Sejak itu , sistem pertanian selalu diperbaruhi. Namun , perjalanan pembaharuan ini sangat lambat, sehingga teknik pertanian sebelum tahun abad ke-17 hanmpir sama dengan teknik pertanian berabad abad sebelumnya., karena kegiatannya masih sangat bergantung pada pada tenaga manusia dan hewan. Kemajuan bidang pertanian baru terasa setelah manusia mulai mengembangkan mesin mesin yang dapat menggantikan fungsi pelatan tradisional sejak akhir tahun 1600-an, sehingga dapat meningkatkan produksi pertanian.

Pada permulaan tahun 1900-an, pakar pertanian mulai mengembangkan bibit unggul tanaman budi daya dan hewan, serta pupuk yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, dan pestisida untuk membasmi hama. Meskipun demikian , modernisasi pertanian hanya tampak di negara maju sedangkan di negara berkembang , pertaniannya masih dilakukan secara tradisional. Contoh, penanaman bibit dan pemanenan padi yang masih banyak dilakukan dengan tangan.

Situasi penyediaan pangan dunia hampir sepenuhnya ditentukan oleh hasil kegiatan pertanian. Perkembangan jumlah penduduk menurut deret ukur dan perkembangan hasil pertanian menurut deret hitung telah menimbulkan kesenjangan yang makin luas antara penyediaan pangan dan kebutuhan pangan. Di negara negara yang mempunyai musim lebih dari dua musim , penyediaan pangan menjadi hal yang sangat penting dan vital. Pada waktu musim dingin (Winter) praktis tidak ada kegiatan pertanian yang dapat dilakukan. Sementara itu manusia tetap membutuhkan pangan dalam jumlah yang besar seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk serta tuntutan meningkatnya kualitas hidup dimana salah satu indikatornya adalah tersedianya bahan bahan pangan.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris yang terletak di khatulistiwa yang hanya mempunyai 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Iklim tersebut membuat pertanian Indonesia dapat melakukan penanaman sepanjang musim.

Sejarah pertanian di Indonesia. Sesuai dengan letak geografisnya, hasil pertanian di Indonesia telah dikenal dunia sejak abad ke-8. Pada masa itu, hasil bumi Indonesia terutama rempah rempah, sudah menjadi salah satu mata dagang penting di Asia khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pedagang barat dengan perantara pedagang Arab dan Persia. Diduga , pada saat itu rempah rempah Indonesia telah dikenal oleh bangsa bangsa di Eropa Selatan dan Tenggara serta Afrika Utara, meskipun mereka mengira komoditi tersebut berasal dari India. Setelah itu, pedagang Cina mulai ikut memasarkan memasarkan hasil pertanian Indonesia dan membuka jalur dagang ke arah barat melalui Cina selatan, Tibet , Afganistan, Iran , Irak dan sampai Eropa Tengah.